BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Jaksa Penuntut Umum Pada Kejaksaan Negeri Bandar Lampung mendakwa dua terdakwa atas nama RN (15) dan JT (15) keduanya merupakan Warga Sinar Mulya, Tanjungsenang, Bandar Lampung, dengan pasal perlindungan anak atas perbuatan cabul yang dilakukan keduanya terhadap PI (15), pada Desember 2017 silam.

Jaksa Supriyanti dalam dakwaanya mengatakan, perbuatan kedua terdakwa dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk saksi korban yaitu anak PI melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.
Perbuatan terdakwa lanjut Jaksa sebagai mana diancam dalam pasal 81 Ayat (2) UU RI Nomor 17 tahun 2006 tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti Undang undang Nomor 1 tahun 2006 tentang perubahan kedua UU Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.



Awalnya pada Desember 2017 terdakwa RN dan saksi korban janjian main keluar rumah pada pukul 13.00 terdakwa menjemput korban, kemudian saksi korban dibawa kerumahnya terdakwa. Sampai di rumah itu terdakwa langsung mengajak saksi korban berhubungan layaknya suami istri dengan membujuk korban.
Setelah melakukan hubungan layaknya suami istri, korban kemudian diantarkan terdakwa pulang. Seminggu setelah kejadian itu terdakwa RN dan JT berkunjung kerumahnya saksi korban, saat itu terdakwa RN mengajak berhubungan badan. Tapi Ditolak.
Pukul 18.00 saat magrib kedua terdakwa pulang namun satu jam kemudian keduanya datang ke rumah korban lagi, ketika itu terdakwa RN mengajak berhubungan badan dan rekanya yakni JT meminta untuk berhubungan badan juga, namun saksi korban menolak. Namun, keduanya merayunya.
Kemudian saksi RN menyuruh saksi korban masuk ke ruang tamu bersama dengan terdakwa JT, setelah terdakwa JT melakukan hubungan layaknya suami istri dengan korban bergantian dengan terdakwa RN.
Berdasarkan hasil visum ET Repertum dari rumah sakit Abdul Moeloek Nomor : 357/3084.B/VII.02/4.13/VII/2018 tanggal 10 Juli 2018 yang ditandatangani dokter mengatakan jika selaput darah saksi korban mengalami luka robek lama, dan bedasarkan pemeriksaan ultrasonograsi hamil 29-30 minggu janin tunggal.

Tim Penasehat Hukum dari Pos Bantuan Hukum Pengadilan Negeri Tanjungkarang, seusai sidang meminta Majelis hakim memberikan hukuman seringan-ringannya  terhadap dua terdakwa, karena keduanya telah menyatakan permintaan maaf dan siap bertanggungjawab atas apa yang telah dilakukan keduanya hingga korban hamil.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR