BANDAR LAMPUNG (lampost.co) -- Sore itu, Kamis (26/10/2017), matahari sudah tidak menampakkan sinarnya. Hiruk pikuk aktivitas perkantoran sudah mulai sepi dari rutinitas para pekerja. Jalan raya mulai dipadati kendaraan, baik roda dua maupun roda empat. Tak jarang, laju kendaraan sesekali terhenti akibat kemacetan di tengah Kota Tapis Berseri.
Saat itu, arloji menunjukkan pukul 16.45, mengantarkan wartawan Lampung Post menuju sebuah pasar tradisional yang tidak jauh dari pusat Kota Bandar Lampung. Bau tak sedap mulai tercium di lubang hidung sejak memasuki kawasan pasar tradisional yang lima tahun progres pembangunannya terhenti.
Di lapak-lapak sudah tidak ada lagi pedagang atau pembeli. Hanya ada tersisa bak sampah berukuran besar beserta pemulung yang mengais rezeki dari barang bekas yang masih laku dijual.
Kolam raksasa dengan kedalaman 2 meter yang semestinya sudah dibangun pasar dipenuhi dengan sampah. Fondasi semen yang sempat dibangun kini tak terlihat lagi karena tertutup oleh lautan eceng gondok yang subur nan hijau.
Mes tempat para pekerja pasar yang bersebelahan dengan fondasi raksasa itu pun sudah mulai lapuk karena ditinggal para pekerja yang tidak dibayar oleh pengembang. Seolah alergi dengan pembangunan pasar tradisonal, pemerintah setempat tidak pernah menengok lokasi pasar yang kini sudah menjadi lautan eceng gondong itu.
Puluhan kali alat berat masuk ke lokasi untuk melanjutkan pembangunan, tapi tetap saja pasar itu tidak kunjung berdiri. Tak tanggung-tanggung, pengembang dan pemerintah pada awalnya merencanakan pembangunan gedung Pasar SMEP akan dibangun setinggi delapan lantai. Hanya saja, rencana itu bak angan lalu. Cerita tinggal cerita, angan para pedagang Pasar SMEP tak tersampaikan.
Para pedagang yang telanjur membayar uang muka hanya bisa gigit jari. Mereka dihadapkan dengan persoalan yang begitu rumitnya. Menginginkan kios baru, namun tidak menentu kapan akan terealisasi. Tak sedikit pedagang yang mengeluhkan agar uang muka mereka dikembalikan saja.
Ana, pedagang yang dulu berjualan di Pasar SMEP, tidak memercayai lagi jika pasar tersebut bakal berdiri. Menurutnya, Pasar SMEP hanya akan jadi cerita lama yang ditulis di memori ingatannya. "Mengais rezeki di pasar itu enggak seenak dulu yang selalu ramai pengunjung. Semenjak dibongkar, beginilah jadinya dipenuhi lautan eceng gondok fondasinya," kata dia. 

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR