JAKARTA (Lampost.co)--Kehadiran buku elektronik (electronic book/e-book) tidak dapat menggantikan buku anak-anak dalam bentuk cetak yang spesifikasinya dirancang khusus untuk mereka, kata psikolog anak Luh Surini Yulia Savitri dari Klinik Terpadu Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

"Saat membaca tablet, mereka hanya menggeser-geser layar, sedangkan kalau buku fisik berbeda-beda bentuk dan teksturnya. Terjadi stimulasi sensorik pada buku fisik," katanya saat ditemui Selasa (12/3) di Depok, Jawa Barat.
Keunggulan buku fisik, menurut dia, ada pada banyaknya ragam bentuk dan jenisnya.
Buku untuk anak usia satu sampai dua tahun biasanya dirancang berbahan plastik atau material tahan air sehingga tidak rusak saat terkena air.



Sementara buku-buku untuk anak usia tiga sampai empat tahun, umumnya berbahan kertas tebal sehingga tidak mudah sobek, dan buku untuk anak yang lebih besar kertasnya semakin tipis.
Yulia, yang aktif mengajar di Fakultas Psikologi, mengimbau para orangtua menyisihkan waktu membacakan buku untuk anak.

Selain bisa meningkatkan keterikatan antara orangtua dan anak, menurut dia, kegiatan membaca buku untuk anak juga bisa menjadi sarana untuk membangun literasi, mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung dengan cara yang menyenangkan.
"Tetapi jika orangtua membacakan bukunya dengan suasana hati yang tidak baik, anak dapat merasakannya," kata Yulia mengingatkan.

Keberadaan gawai menghadirkan tantangan bagi orangtua dan anak masa kini. Terlepas dari sisi-sisi positifnya, dengan segenap kemampuannya gawai juga membawa dampak negatif bagi perkembangan anak.

"Salah satu penyebab anak sekarang cepat sekali berpindah fokus adalah gawai. Dengan gawai, saat bosan ia dapat dengan cepat mengganti tontonan atau permainan," ujar Yulia.

loading...

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR