MEDIA sosial kini menjadi salah satu senjata yang bisa membuat masyarakat ketakutan. Bahkan, wacana tuduhan terorisme bakal menyasar pemilik akun media sosial, terutama yang membuat berita yang diduga atau disangka hoaks alias bohong. Tentu saja yang menilai mana yang hoaks alias teror atau bukan adalah individu atau lembaga berwenang.

Untuk itu, Kacung memutuskan berhenti bermain media sosial alias medsos. "Sekarang saatnya saya membuat kunci atau pengamanan supercanggih, biar akun saya tidak dibajak. Besok saya akan fokus mengurus kebun durian majikan saja," gumam Kacung. 



Kacung pun mencari koleganya, Inem, di dapur rumah majikannya. "Nem, Inem, dipa pacul sa ya? Saya mau tanam durian," ujar Kacung saat bertemu Inem. Inem pun menjawab, "Kanggo nopo to, Bang?

Kacung memberi penjelasan bahwa dia akan mengurus kebun majikan di sela kesibukan mengurus halaman rumah. "Saya mau membuat kaya majikan, kebun sawit 1 hektare itu mau saya tambah luasnya," kata Kacung. "Biar jadi kebun sawit 1 hektare ditambah kebun durian 1 hektare."

"Halah, piye carane to, Bang?" kata Inem. "Masa pakai uangmu mau membeli tanah lagi untuk majikan."

Kacung senyum dan menjawab. "Bukan begitu, Nem. Di kebun sawit 1 hektare itu akan saya tanam 10 pohon durian di bagian yang kosongnya," ujarnya. "Kan jadini, sawit sehiktakh, dekhian sehiktakh." 

Inem pun terbahak kemudian berkata. "Oalah. Biar kalau ditanya orang, kebunmu berapa? Majikan menjawab 2 hektare, padahal cuma lahan 1 hektare itulah, ya."

"Tapi, bukan itu intinya, Nem," ujar Kacung. "Kan sekarang harga sawit masih merosot. Nah, yang mahal harga durian. Ya sudah kita tanam durian saja."

Kacung nyerocos terus. "Kan pemerintah mak sanggup nyekakko khegani," kata Kacung bersemangat. "Ya, kita tanam durian. Sebagian lagi pete dan jengkol. Komoditas itu katanya yang harganya masih tinggi." 

Inem mulai jengkel dengan pembicaraan koleganya itu. "Jadi kebun majikan jadi 4 hektare dong. Sawit sehektare, durian sehektare, pete sehektare, dan jengkol sehektare," ujarnya. "Itu niat berkebun, apa jengkel karena mboco berito nang medsos, Bang?"

"Ya, begitulah, Nem, kita coba ikuti arahan pemerintah untuk menanam tanaman lain saat tanaman kita yang ada harganya turun," kata Kacung. "Kita sebagai kacung ya manut-manut saja, Nem."

Inem pun beringsut hendak meninggalkan Kacung. Namun, langkahnya tertahan dan kemudian berkata. "Sekalian, Bang, buat kolam. Siapa tahu ada yang bisa dipelihara di sana. Ikan mas sekolam, jentik nyamuk sekolam, kangkung sekolam, dan cebong sekolam." 

Kacung pun mengacungkan telunjuk di mulutnya. "Setop, Nem, jangan ngomong seperti itu! Mana cangkulnya?" Astagfirullah...

 

BERITA LAINNYA


EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR