KALIANDA (Lampost.co)-- Bagi petani, tak ada yang lebih membahagiakan dari panen raya. Peluh dan biaya yang dikeluarkan selama berbulan-bulan terbayar lunas saat menyaksikan bulir padi menghampar kuning di depan mata. Masa panen yang berlimpah merupakan hal yang ditunggu-tunggu bagi petani. Apalagi menjelang hari raya lebaran, petani penuh dengan harapan hasil panen yang didapatkan bisa untuk memenuhi kebutuhan hari raya idul fitri mendatang. Namun, harapan tinggalah harapan.

Hujan yang sering terjadi di Kecamatan Palas, Lampung Selatan, dalam akhir-akhir ini membuat putus asa petani. Setidaknya 635 hektare sawah di 7 desa terendam banjir, yakni Desa Bandanhurip, Pulautengah, Palasjaya, Mekarmulya, Baliagung, Bumirestu dan Bangunan.



Salah satu desa yang alami gagal panen dengan lahan terluas, yakni Desa Pulautengah. Dimana, petani yang alami gagal panen mencapai 100 hektare. Dari luas itu, terdapat 65,50 hektare tanaman padi tidak bisa klaim Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Salman, petani di Desa Pulautengah, mengatakan, petani sebenarnya tetap berharap tanaman padinya selamat ketika banjir. Namun apa daya, banjir merendam lebih dari sepekan. Bahkan, di beberapa area, banjir merendam lebih dari 10 hari.

"Biasanya kalau cuma tiga atau empat hari terendam, padi masih bisa selamat. Tapi ini sampai seminggu sampai 10 hari terendam, enggak ada tanaman yang selamat," kata dia, Rabu (15/5/2019). Dalam kondisi begitu, kata Salman, petani punya dua pilihan yakni membiarkan sawahnya menganggur hingga musim tanam berikutnya atau mencari bibit yang usianya tak terpaut jauh dari tanaman padi di kawasan sekitar.

Sebab, jika harus kembali menebar benih, maka pertumbuhan dan hasil panen padi tak akan optimal. Petani meyakini, bakal banyak penyakit saat padi ditanam di luar musim, seperti Organisme pengganggu tanaman (OPT) akan mengganas. "Lahan saya seluas setengah hektare dibiarkan kosong hingga musim tanam berikutnya atau musim gaduh. Sangat rawan dengan hama. Saya enggak mau gagal panen dua kali," katanya.

loading...

EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR