BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Ibu enam anak bernama Fitri Yulmi nampak sedih dengan mata berkaca-kaca saat menceritakan apa yang dia alami ketika hendak meminta Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) di kantor kelurahan setempat, Selasa (3/7/2018) lalu. Saat ditemui dirumah kontrakannya di RT 07 LK I, Kelurahan Beringin Jaya, Kemiling, Bandar Lampung, Kamis (5/7/2018) ibu ini menceritakan bagaimana dia di marahi oleh lurah Beringin Jaya dan stafnya karena hendak mengurus syarat biling untuk anak ke empatnya.

Awal mulanya, Senin (2/7/2018) ibu yang akrab disapa Fitri datang ke rumah RT yang tidak jauh dari rumahnya untuk meminta surat pengantar karena hendak mengurus SKTM ke kelurahan. Setelah mendapat surat pengantar, keesokan harinya, Selasa (3/7/2018) Fitri datang ke kelurahan membawa semua persyaratan untuk mengurus SKTM karena diperlukan untuk mengurus billing untuk anak ke empatnya bernama Andika Mardiansyah.



Sampai di kelurahan, sudah ada lurah Dara P. Sari, sekretaris lurah Neni, sejumlah staf, dan ada juga Sunarto selaku RT tempat Fitri tinggal. Menurut Fitri, begitu masuk dirinya langsung dibentak oleh lurah dengan nada membentak. "Mau apa ibu Fitri, ngurus biling ya, ke Arinal saja langsung. Ibu kan saksinya Arinal," kata Fitri mengulang apa yang diucapkan lurah Beringin Jaya.

Fitri pun mengaku tidak menanggapi apa yang diucapkan lurah tersebut. Setelah lurah berkata begitu, Fitri disuruh ke sekretaris lurah Neni. Oleh Neni, Fitri diceramahi. "Ibu Neni nanya saya, ibu tahu biling itu program siapa, saya jawab program wali kota, dia bilang lagi, kok mau programnya enggak mau milih orangnya," kata Fitri menceritakan.

Namun Fitri tidak menanggapi perkataan yang menurutnya sudah mengarah ke ranah politik itu. Lantas dirinya menanyakan apakah bisa mendapat surat keterangan tersebut. "Ibu Neni bilang tidak bisa keluarkan suratnya kalau tidak ada perintah lurah," kata dia.

Baca Juga:

Begini Kesaksian Pak RT atas Warganya Yang Dimarahi Lurah Saat Mengurus SKTM

Tak Berikan Rekomendasi Biling, Begini Penjelasan Lurah Beringin Jaya

Akhirnya Fitri pergi dengan perasaan sedih. Bahkan sebelum meninggalkan kantor kelurahan tersebut. Dirinya kembali mendapat perkataan minta ke cagub yang menjadikannya saksi pada pilgub beberapa waktu lalu. "Bukannya berkas berkas yang saya bawa dibuka dulu, malah langsung disuruh minta ke Arinal," kata Fitri yang mengakui bahwa memang dirinya merupakan saksi cagub nomor tiga Arinal Nunik.

Fitri pun menyayangkan sikap Lurah dan seklur yang notabene adalah ASN namun terkesan tidak netral dalam pilgub. "Ya caranya jangan gitu lah, jangan billing dikait kaitkan dengan pilkada, kalau memang tidak bisa ya jangan begitu bicaranya," kata dia.

Fitri yang sudah menikah lagi karena suami pertamanya sudah meninggal ini lalu pasrah dan tetap akan mendaftarkan anaknya di SMP 14 meski melalui jalur reguler. "Walaupun tidak biling tetap reguler lah, insa Allah ada rejeki. Kata teman saya bisa lewat jalur prestasi, jadi nanti mau diurus juga di sekolah lewat jalur prestasi karena anak ada prestasi di karate," kata dia.

Disisi lain, Fitri mengaku belakangan mendapat informasi bahwa lurah mempersoalkan gaya dan tampilan poto Fitri yang diunggah di akun facebook Fitri karena dinilai berpenampilan mewah, serta mempersoalkan Fitri yang berfoto dalam mobil dan mengatakn Fitri sudah punya mobil karena melihat Fitri datang ke kelurahan naik mobil. "Kalau poto poto yang di facebook itu poto lama empat tahun lalu itu juga yang di foto mobil kawan bukan mobil saya. Terus mobil yang dipakai ke kelurahan itu, suami saya bawa mobil tempat dia bekerja, bukan mobil saya," kata Fitri.

Untuk diketahui, Fitri tinggal dirumah itu bersama keluarganya mengontrak Rp5 juta setahun. Dirumah itu pula, ia memiliki usaha servis kursi dan sofa yang ia kerjakan sendiri. Sedangkan suaminya bekerja di salah satu cafe di wilayah Way Halim dengan gaji Rp500 ribu per bulan.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR