BANDAR LAMPUNG (lampost.co) -- Jaksa Penuntut Umum pada Kejaksaan Tinggi Lampung menghadirkan empat orang saksi perkara dugaan perambah hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), terdakwa atas nama Aan Jamaloedin, Rabu (11/7/2018).

Keempat saksi yang dihadirkan di persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri, Kelas 1A, Tanjungkarang, yakin Icuk S Laksito, Ming Alias Hendro, Wiliam, dan Pahrul Rozi.



Dalam penyampaiannya, salah satu saksi Icuk S Laksito di persidangan mengatakan, saat pelebaran jalan ada batang pohon yang tumbang, alat yang digunakan untuk menumbangkan pohon adalah alat berat dan alat penebang pohon. "Hampir 11 kilo meter, sebelum pembukaan jalan belum pernah ada seperti itu," kata Saksi Icuk.

Menurut Icuk, jalan yang dibuka menuju wilayah tambak Desa Way Heni, dulunya jalan itu adalah setapak untuk menghubungkan desa satu dengan desa yang lain. Jalan itu hanya bisa dilewati kendaraan roda dua.

"Ada dua dampak akibat pembukaan jalan yang kami rasakan, pertama akses masyarakat berburu semakin mudah, kedua kerusakan lingkungan yang semestinya kita jaga bersama," katanya.

Menurut saksi selain perambahan hutan TNBBS yang digunakan sebagai akses jalan untuk memasukkan alat berat, ada gudang logistik yang masuk wilayah TNBBS.

"Yang saya tahu perusahaan tersebut belum memiliki izin, izin apa saja yang harus dimiliki ya harus memiliki izin lingkungan hidup," katanya.

 

EDITOR

Ricky Marly

TAGS


KOMENTAR