KRUI (Lampost.co) -- Warga mempertanyakan surat nikah yang belum didapat dari Kantor Urusan Agama (KUA)  padahal pernikahan pasangan itu telah dilakukan dua tahun lalu. Wagiman (54) seorang warga Pesisir Barat, mengatakan ia dan pasangannya Meta Wahyuni (36), sekitar tahun 2016 lalu menikah di Pekon Mulangmaya, Kecamatan Ngaras.

Meski pernikahan dilakukan oleh Petugas Pencatat Nikah setempat atau resmi oleh hukum negara, Namun surat nikah kedua pasangan yang sebelumnya merupakan janda dan duda tersebut belum juga diterima sampai saat ini.



"Ya, saya mempertanyakan buku nikah kam\i yang sampai saat ini gak ada. Kami dulunya dinikahkan oleh Satiri petugas P3N (Pekon Mulangmaya). Biaya nikah diminta oleh P3N waktu itu Rp900 ribu. Setelah menikah, kemudian kami berdua tinggal di Blok 7, Pekon Mulangmaya," kata dia, Minggu (12/8/2018).

"Pernah saya tanyakan hal ini kepada Satiri. Kata Satiri, berkas atau surat nikah saya dan istri saya sudah diberikan kepada Yusuf (pegawai KUA Bengkunat). Sementara saat saya tanya ke Yusuf, berkas itu belum dia terima dari Satiri, saya bingung jadinya," kata dia lagi.

Saat ini, kata Wagiman, ia membutuhkan buku nikah itu, karena umumnya pada saat orang selesai menikah, buku nikah langsung diberikan oleh penghulu atau petugas yang menikahkan,  namun ini tidak ada sampai saat ini.

"Sekarang saya sama istri saya sudah pisah ranjang. Ia meminta agar saya menceraikannya, saya butuh buku nikah itu," kata Wagiman.

Sejak hubungannya renggang dengan istrinya, saat ini Wagiman, tinggal di Pekon Biha, Kecamatan Pesisir Selatan. 

Ditempat yang sama, Nurdin (56) kerabat dari Wagiman, mempertanyakan kinerja KUA yang tidak memberikan buku nikah, padahal sudah membayar sejumlah uang kepada P3N dan itupun sudah lama sejak dua tahun lalu. "Jelas ini kinerja P3N dan KUA dipertanyakan. Warga sudah taat aturan menikah secara resmi baik aturan agama dan aturan negara, tetapi bukunya belum juga diterima sampai sekarang," kata dia.

loading...

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR