BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Kecelakaan di perlintasan kereta api terjadi selama dua hari berturut-turut. Pada Kamis sekitar pukul 10.00 WIB, Sahlan (55) warga Kampung Karanganyar, Kelurahan Ketapang Kuala, Kecamatan Panjang, tewas usai ditabrak kereta api.

Sehari sebelumnya, Rabu (10/4), Salahudin (44), warga Srengsem Panjang, tertabrak kereta. Meski sempat dilarikan ke UGD RSUD Abdul Moeloek, Salahudin menghembuskan napas terakhir lantaran menderita luka cukup parah.



Kapolsek Panjang, Kompol Sofingi, membenarkan kejadian tersebut. Informasi yang dihimpun anggota di lapangan,  korban sedang duduk di pinggir Rel kereta api di Kampung Kuala Ketapang, ketika Kereta api lewat dari Tarahan menuju Tanjungkarang, korban tidak bergeser dari posisinya lalu korban terserempet pada bagain kepalanya. 

"Akibat kejadian teraebut korban mengalami luka pada bagian kepala, menurut keterangan keluarga korban diduga korban mengalami gangguan jiwa, lantas anggota langsung Koordinasi dan membawa ke Puskesmas, lalu dirujuk ke RS Abdoel Moeloek, namun sebelum sampai, korban meninggal," ujarnya, Kamis (11/4/2019).

Humas PT KAI Sapto Hartoyo pun membenarkan kecelakaan tersebut hingga korban yang tewas tersebut. "Iya benar, kalau yang kemarin ninggal pukul 5 sore, kalau yang pagi ini kejadiannya pejalan kaki saat jalan di atas rel di jalur rel  km 4+8 antara stasiun Sukamenanti - Tanjungkarang," ujar Humas PT KAI Divre IV Tanjungkarang, Sapto.

Menurut Sapto, korban diduga mengalami gangguan mental dan pendengaran, sehingga tidak mendengar bunyi klakson dan semboyan 53 dari PT KAI. "Waktu bunyi dia enggak dengar," katanya.

Disinggung angka kematian akibat lakalantas degan kereta, Sapto  tak bisa berbuat banyak. Pasalnya segala upaya sudah dilakukan.
"Tapi setiap korban, pihaknya juga usahakan memberikan santunan dan berkoordinasi dengan PT Jasa Raharja," katanya.

Setidaknya dalam 6 bulan terakhir, termasuk dua korban tersebut ada lima korban yang terlibat kecelakaan dengan kereta api.
 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR