SAAT remaja, banyak cerita memecahkan telur ke tubuh kawan-kawan pelajar yang merayakan hari ulang tahun di sekolah. Kadang pakai telur busuk yang baunya minta ampun. Tapi, bagaimana kalau telur dipecahkan ke kepala satu senator Australia?

Kejadian memecahkan telur ke kepala itu dilakukan remaja (17 tahun) ke senator Australia, Fraser Anning, Sabtu (16/3/2019) lalu, di hadapan jurnalis yang sedang mewawancarainya. Remaja itu mengangkat ponsel di satu tangan dan menghancurkan telur di belakang kepala Anning dengan tangan lainnya (Nytimes.com).



Remaja itu lantas dipukul oleh senator Anning. Remaja itu pula ditahan bodyguard ke lantai dengan posisi chokehold sampai polisi tiba. Video ini menjadi viral di media sosial.

Washingtonpost.com menyebutkan remaja itu sempat ditangkap sebentar oleh polisi, tapi kemudian dibebaskan tanpa tuduhan.

Remaja ini lantas membuat donasi atas aksinya. Di situs web www.gofundme.com, donasi money for EggBoy pada Senin (18/3/2019) siang mencapai 42.976 dolar AS dari target 50 ribu dolar AS. Donasi yang diberikan beragam ada yang 10 dolar sampai 250 dolar AS. ada yang anonim, ada pula yang memakai nama terang.

Peristiwa itu bermula anggota parlemen anti-imigrasi di Australia yang telah dikritik karena menyalahkan imigrasi muslim untuk penembakan di Selandia Baru.

Perdana Menteri untuk Australia dan Selandia Baru mengutuk Anning atas apa yang dia katakan tentang muslim dan lakukan kepada remaja, yang sekarang dikenal sebagai anak laki-laki telur (EegBoy). EegBoy itu diketahui adalah William Connolly (Washingtonpost.com).

Peristiwa yang lebih mengejutkan lagi adalah seorang wartawan Irak, Muntazer, melempar sepatu ke Presiden Amerika Serikat (AS) George W Bush pada Desember 2008.

Dalam insiden tersebut, Bush, yang ditemani Perdana Menteri Irak Nouri al-Maliki merunduk sambil menutupi kepalanya dengan tangan. “Ini ciuman perpisahan dari rakyat Irak,” kata Muntazer seraya melemparkan sepatu pertama. Dan, “Ini untuk wanita dan anak-anak Irak yang diperkosa, serta semua warga kami yang telah dibunuh (tentara Amerika),” Muntazer berteriak sembari melontarkan sepatu kedua (Tempo.co).

Muntazer dihukum 3 tahun penjara kendati dibebaskan setelah sembilan bulan. Hal kedua, yang menurut Muntazer nyaris lebih berat dari penjara, adalah dia tak dapat lagi bekerja di Irak sebagai wartawan.

Kedua peristiwa ini menjadi pelajaran bagi Indonesia. Jangan sampai pemimpin negeri ini membuat tindakan yang menentang aturan yang telah ditetapkan undang-undang yang telah termaktub dari suara rakyat. Kalau William sudah membeli banyak telur dari hasil donasinya, kira-kira siapa target dia berikutnya?

BERITA LAINNYA


EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR