DENPASAR (Lampost.co)--Lembaga pelatihan dan riset untuk manajemen tanggap bencana di bawah naungan ACT Foundation, Disaster Management Institute of Indonesia (DMII), mendukung kebijakan pemerintah untuk memasukkan edukasi bencana ke dalam kurikulum karena mayoritas kawasan di Indonesia merupakan kawasan rawan bencana.

"Itu sangat mendesak karena kebijakan pembangunan kita masih sangat tidak promitigasi bencana, padahal kawasan ini sangat rawan. Selama ini, mitigasi bencana hanya menjadi wacana yang didiskusikan saja di seminar-seminar. Semoga bukan hanya karena tahun politik saja ya," kata Kepala DMII Wahyu Novyan kepada Antara di Denpasar, Selasa (12/2/2019). 



Saat meninjau korban tsunami Selat Sunda di Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, 2 Januari 2019, Presiden Joko Widodo meminta pemberian edukasi terkait bencana-bencana alam mulai diberikan kepada pelajar di sekolah, juga masyarakat secara umum pada Januari 2019.  "Pendidikan mengenai kebencanaan akan dimulai pada Januari ini," ujar Jokowi. 

Dalam kesempatan itu, Jokowi menyatakan edukasi utamanya akan dilaksanakan di daerah-daerah rawan longsor, gempa, dan tsunami. Selain pemberian edukasi itu, Kepala Negara juga menyampaikan bahwa pemerintah segera menata ulang konsep tata ruang sejumlah garis pantai yang rawan tsunami.

Menurut Wahyu Novyan, Kemendikbud sebenarnya sudah memfasilitasi adanya sekretariat nasional (setnas) Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di bawah koordinasi Direktorat Pendidikan Khusus Layanan Khusus (PKLK). 

"Setnas SPAB perlu menangkap momentum dari kebijakan Presiden itu, karena Jepang mengajarkan kesiapsiagaan diri sendiri sangat penting," katanya. 

Dalam survei pascagempa "Great Hanshin Awaji" di Jepang (1995) terungkap bahwa mayoritas korban selamat berasal dari kesiapsiagaan diri sendiri (everyone is a life saver). Hasil survei itu mencatat 34,9% korban selamat karena kesiapsiagaan diri sendiri (everyone is a life saver). 

Faktor lain yang menyebabkan korban selamat adalah 31,9% dari dukungan keluarga, 28,1% dari dukungan teman/tetangga, 2,6% korban selamat dari pertolongan orang lewat, 1,7% korban selamat dari dukungan regu penolong, dan 0,9% karena faktor lain-lain.

loading...

EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR