BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Rabu (4/10/2017), sore saat langit  mendung, terlihat pria paruh baya dari kejauhan mengayuh sepeda ontel warna merah-putih. Frame Sepedanya berwarna kombinasi merah putih dan dua bendera merah putih besar di bagian belakang, dan bendera kecil dibagian depan, beserta tas yang juga warna merah putih berisikan barang-barang tertumpuk di bagian belakang.
 
Pada bagian depan terdapat tiga papan yang seakan-akan menjadi tameng sepeda tersebut, bertuliskan "Tertib Lalu-Lintas Masbro...", Kelilin Inonesia", dan "Katakan Tidak, Pada Narkoba." Pada bagian belakang sepeda menyerupai plat motor  bertulislan Keliling Indonesia.

Pria bayuh baya itu pun mentereng karena menggunakan helm berwarna merah putih bertuliskan NKRI Harga Mati. Damin (43), pria warga Desa Sinar Pasma, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lampung Selatan tersebut pun menyambangi Mapolda Lampung, meski telah menempuh jarak yang cukup jauh, dan juga terlihat lelah, namun senyum dan mimik ceria terpancar dari suami Kholiza tersebut.



Bukan hal lain, pria yang dulunya berprofesi sebagai sopir tersebut telah mengayuh sepeda cukup jauh. Bermula dari kediamannya pada 28 April 2017 ia telah mengayuh sepedanya hingga ke titik paling barat NKRI yakni Sabang pada 30 Juli 2017 dan kini telah kembali ke Bandar Lampung dan hendak menemui Kapolda Lampung.

 "Saya sudah lima setengah bulan naik sepeda sudah sampai ke Sabang, dan sampe Lampung lagi, dan ingin keliling Indonesia. Di Banda Aceh delapan hari  rumah propos, Sabang 4 hari, Medan 4 hari, Bengkulu 6 hari, Pelembang 4 hari, Padang 6 hari dan Riau 4 hari, saya pergi lewat lintas timur Sumatera, pulang lewat lintas barat
," ujarnya saat ditemui di Mapolda Lampung, Rabu (4/10/2017).

Tujuan pria itu mengelilingi Indonesia bukan tanpa maksud dan tujuan, selain ada keinginan besar untuk melihat indahnya Indonesia, ia juga punya misi cukup mulia, yakni  mengkampanyekan keselamatan berlalu-lintas dengan atribut lengkap, dan kampanye antinarkoba. Tujuan itu juga bukan tak ada latar belakang, nasib nahas pernah dialaminya, kakinya tak bisa digerakan karena mengalami lumpuh akibat kecelakaan pada tahun 2008 dan lumpuh tak bisa berjalan hingga tahun 2012.

"Dulu saya sopir dan menyepelakan keselamatan lalu lintas, akhirnya kaki saya patah dan enggak bisa jalan empat tahun. Selain biar kaki saya sehat, saya mau kampanyekan keselamatan berkendara," katanya.

Banyak suka duka yang dialami dirinya, mulai dari rusaknya sepeda, dan ban yang bocor, serta singgah dari satu daerah ke daerah lain. Tak main-main hanya bermodalkan uang Rp130.000 ia nekat mengayuh sepeda mengelilingi pulau Sumatera, dan usai singgah sejenak di rumah, ia hendak melanjutkan kayuhannya ke Pulau Jawa, Kalimantan, Hingga Papua.

"Sepanjang perjalanan saya tidur di Polsek-polsek dan pom besin dan rumah warga. Saya bawa bekal 130 ribu  untuk berkeliling. Sampai Bengkulu mau pulang ke Lampung duit pernah habis tapi ada simpatisan yang kasih saya bantuan," kata pria yang juga mengenakan seragam siswa SD berwarna merah putih, menunjukan kala ia cinta Indonesia.

Dengan penuh semangat ia juga bercerita  bahwa helm yang ia gunakan  pernah ingin diminta mantan anggota GAM di Aceh, dan hendak dibayar Rp1 juta, ia juga kerap dikira orang gila di berbagai daerah.

"Kemanapun sepeda saya mengayuh, saya percaya, Indonesia rumah saya, dan istri anak saya juga setuju," katanya.

Meski tak berjumpa dengan Kapolda Lampung, namun ia diterima dengan baik di Mapolda Lampung, dan menceritakan niat dan tujuannya. Akhirnya ia juga mendapat cap di SPKT Mapolda Lampung, sebagai tanda ia sudah singgah di sini.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR