BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Irfani (23) alias Ipan pelaku utama kurir kelas kakap narkoba jaringan Aceh mengakui jika dia telah dua kali mengantar barang jenis sabu sabu ke Ibukota Jakarta dengan total setiap kali keberangkatan membawa 2 kg serbuk putih mengandung metamfetamina. Hal ini terungkap di persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri Kelas 1A, Tanjungkarang, Selasa (24/7/2018).

Selain terdakwa Irfani alias Ifan, tiga rekannya juga dihadirkan dipersidangan yakni Syarif (67), Hayudin (34) dan Armansyah (45). Keempat pelaku semuanya berasal dari Provinsi Aceh.



Di persidangan Irfan mengaku jika dia ditangkap lantaran terdesak karena dipukuli anggota. Ketika itu, dia bersama tiga rekannya berangkat dari Aceh setiba di Terbanggi Besar, Lampung Tengah ada razia polisi. Disitu mereka diperiksa namun tidak ditemukan barang haram jenis sabu seberat 2 kilo yang terdakwa simpan di plavon mobil yang membawa narkoba tersebut.

"Kami diperiksa karena nggak menemukan barang dari hasil razia mereka kami disuruh pergi, pas mau naik mobil saya dipanggil lagi sama polisi, terus polisi menunjukkan foto saya kemudian saya dipukuli disuruh menunjukkan barang, karena tidak tahan saya keluarkan sabu 2 kilo yang rencananya mau saya bawa ke Jakarta itu," katanya.

Dalam keterangan terdakwa Irfan, dia juga membantah telah membawa barang haram seberat 4 kg seperti dalam BAP polisi. Menurut dia, barang tersebut berasal dari Aceh seberat 2 kilo dan akan dibawa ke Jakarta.

"Saya dipaksa untuk berbicara sama polisi supaya saya ngomong membawa barang 4 kg sabu, seolah-olah dua kilonya saya turunkan di Palembang padahal itu tidak benar. Yang saya bawa hanya dua kilo dan sudah dua kali saya mengantar termasuk yang tertangkap sekarang, yang menyuruh Agus," katanya dalam kesaksian.

Hakim Anggota Pastra Jhosep mempertanyakan kepada terdakwa Sarif apakah terdakwa mengetahui jika mobil yang terdakwa kemudian membawa sabu-sabu, terdakwa lantas menjawab benar dia mengetahuinya, hakim kemudian mengatakan kenapa tidak pernah melarang saat membawa barang itu.

"Saya pikir resiko masing-masing makanya saya tidak mengurusi dia bawa barang tersebut," kata terdakwa Sarif.

Mendengar jawaban terdakwa, Hakim mengatakan semestinya dalam perjalanan dari Aceh hingga Terbanggi Besar, Sarif melapor ke aparat bahwa anak buahnya membawa barang haram atau menyuruh dia turun dari mobil dan membawa barang itu.

"Bapak tidak bisa mengatakan resiko masing-masing, karena bapak mengetahui ada barang yang dibawa dari Aceh sampai Terbanggi itu lama 3 hari perjalanan. Kenapa anda tidak berpikir bahwa membawa barang seperti itu resikonya besar dan bapak bisa kena juga karena bapak sebagai pemimpinya," kata Hakim.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR