SUKADANA (Lampost.co) -- Minim informasi atau narasumber yang dapat dijadikan rujukan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Lampung Timur kerap kesulitan mengungkap fakta dari keberadaan sejumlah peninggalan bersejarah.

Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Dikbud Kabupaten Lamtim, Meidasari, kepada Lampost.co, Senin (30/7/2018) menjelaskan, di wilayah Kabupaten Lamtim cukup banyak peninggalan bersejarah baik berupa berupa bangunan gedung, pemakaman, kompleks peninggalan purbakala, dan lain-lain.



Diakui oleh Meida Ulfah sebagian besar peninggalan bersejarah tersebut memang telah dapat diungkap fakta-faktanya. Sehingga informasi atau kronologi lengkap mengenai keberadaan peninggalan bersejarah itu sendiri dapat  diketahui oleh masyarakat baik lokal maupun luar daerah.

Namun, masih ada juga sejumlah peninggalan bersejarah yang hingga saat ini sulit diungkap fakta-katanya. Sejumlah peninggalan bersejarah yang sulit diungkap fakta-faktanya tersebut misalnya, keberadaan bangunan bersejarah di Gunung Tamiang, Kecamatan Sukadana.

Kemudian makam Minak Braja Selebah, lokasi pertahanan pejuang saat bertempur menghadapi tentara Belanda di Desa Gedung Dalem, Kecamatan Batanghari Nuban, dan lain-lain.

Keberadaan sejumlah peninggalan bersejarah tersebut, kata Meidasri, sulit diungkap, karena minimnya informasi  atau narasumber yang dapat dijadikan rujukan untuk mengungkap fakta-fakta mengenai keberadaan peninggalan bersejarah itu sendiri.

Karena informasi  serta narasumber yang sangat minim akhirnya seringkali fakta mengenai keberadaan sejumlah peninggalan bersejarah itu menjadi kabur, simpang siur, bahkan tidak jelas. Sehingga meski sudah dicoba untuk ditelusuri, digali dan dikonfirmasi kepada berbagai pihak, namun karena informasi serta narasumber yang sangat terbatas akhirnya data atau fakta yang didapat tetap saja tak sesuai harapan, bahkan cenderung  jauh dari kebenaran.

“Karena minimnya informasi atau narasumber itulah kami sering mengalami kesulitan dalam mengungkat fakta dan kronologi dari keberadaan sejumlah peninggalan bersejarah,” kata Meidasari.

Namun mengingat betapa pentingnya peninggalan bersejarah itu, tandas Meidasari, meskipun kerap menemui kesulitan karena faktor minimnya informasi dan narasumer,  pihak Disdikbud akan tetap terus berupaya maksimal untuk mengumpulkan, data, informasi serta narasumber yang dapat dipertanggungjawabkan guna mengungkap fakta serta kronologis dari sejumlah peninggalan bersejarah tersebut.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR