LIWA (Lampost.co) -- Dua petani dari kelompok tani Makmur III Pekon Srimulio, Kecamatan Bandarnegeri Suoh, Lampung Barat mengajukan klaim dana asuransi usaha tani padi (AUTP) kepada PT Jasindo karena tanaman padi mereka yang siap panen rusak setelah diterjang banjir pada akhir Maret lalu.

Kasi yang menangani program asuransi petani di Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Lampung Barat Budiono mendampingi Kadis Noviardi Kuswan, Rabu (11/4), menjelaskan sampai saat ini terdapat dua petani yang telah mengajukan klaim dana asuransi tanaman padi untuk meminta ganti rugi karena tanaman padinya rusak akibat banjir. Pengajuan klim dana asuransi disampaikan kepada PT Jasindo melalui Dinas Pertanian pada awal April lalu dan telah disampaikan kepada PT Jasindo untuk diproses pada 5 April lalu.



"Saat ini petani tinggal menunggu tindaklanjut dari pihak asuransi," kata dia.

Usulan ganti rugi dari petani itu, kata dia, telah disampaikan kepada pihak PT Jasindo pada 5 April lalu. Adapun luasan tanaman padi siap panen milik dua petani yang rusak akibat disapu banjir itu yakni mencapai 5.540 meter persegi terdiri dari milik Rajio seluas 5.000 meter persegi dan milik Tujimin seluas 540 meter persegi.

Budiono menambahkan, berdasarkan peninjauan pihaknya di lokasi maka dapat dipastikan bahwa kondisi tanaman padi kedua petani tersebut rusak akibat disapu banjir.

Dia menambahkan, untuk tahun 2018 jumlah lahan tanaman padi yang didaftarkan pada program AUTP sampai saat ini baru mencapai 16,5 hektare. Pengajuan itu berasal dari petani Kecamatan Gedungsurian 5,5 hektare dan Bandarnegeri Suoh 11 hektare dan belum ada tambahan karena saat ini masih memasuki musim panen.

Guna mensukseskan target 1.000 hektare tanaman padi masuk program asuransi, pihaknya terus melakukan sosialisasi tentang tujaun program AUTP. Petani yang mengikuti program AUTP hanya dengan membayar premi sebesar Rp36 ribu/musim tanam. Apabila terjadi gagal panen total maka petani dapat mengajukan klaim sebesar Rp6 juta/hektare.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR