JAKARTA (Lampost.co)-- PP Muhammadiyah melayangkan kecaman terhadap film "After" yang diputar di bioskop-bioskop Tanah Air sejak 16 April lalu karena adanya adegan yang dianggap terlalu vulgar.

“Film ‘After’ menggambarkan kehidupan remaja dan pergaulan ala masyarakat sekuler. Banyak dialog dan adegan yang tidak sesuai dengan budaya dan masyarakat Indonesia yang relijius," kata Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’thi di Jakarta, Kamis (18/4/2019).



Melalui keterangan tertulis Mu’thi menyatakan, film After bisa mempengaruhi pola pikir dan pergaulan remaja yang cenderung bebas dan mengabaikan nilai-nilai dan norma luhur budaya bangsa Indonesia.
"Kalau pun mau tayang, film ‘After’ harus dilakukan editing dan sensor yang ketat," kata dia.

Sementara itu artis yang juga pengacara, Gusti Randa mengakui ‘After’ memang memunculkan kontroversial, terutama, dari sisi penggambaran yang tidak sesuai dengan budaya timur.

Tetapi, menurut dia, justru di situlah sisi menariknya, karena film ini menggambarkan budaya barat yang lebih terbuka, maka justru memancing penonton untuk ingin tahu.

Di sisi lain, Gusti memperkirakan bahwa masyarakat juga akan tertarik menyaksikan ‘After’, karena dalam dunia film, terdapat siklus, dimana masyarakat akan mengalami kejenuhan dengan genre film tertentu, misalnya horor.

Febri Sihombing dari Komunitas Anak Nonton menanggapi kontroversi film After yang dinilai menampilkan adegan dewasa sementara pemain dan ceritanya mengangkat dunia remaja menyatakan, melalui film ini orang tua justru bisa mengantisipasi anak remajanya yang memasuki usia pubertas.

Dalam konteks itulah, tambahnya, beberapa adegan dalam film ini tidak perlu dipersoalkan, termasuk ketika Tessa dan Hardin Scott berkencan di sekitar danau.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR