PANARAGAN (Lampost.co) -- Insiden ditemukannya limbah plastik pada material timbunan pondasi pasar Pulungkencana berbuntut panjang, sejumlah anggota asosiasi pengusaha Kontruksi di kabupaten Tulangbawang barat (Tubaba), menunding hal tersebut dampak dari rekomendasi Dinas pekerjaan umum dan penataan ruang (PUPR) setempat melalui Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) yang meloloskan subkontraktor tender internal oleh PT Brantas Abipraya.

"Belum pernah terjadi proyek segede ini di tempat kita, pembangunan Pemda dan DPRD saja tidak segede ini, jadi masyarakat menghendaki ini berjalan dengan baik, nah ini baru berjalan pengerjaan pondasi saja sudah tidak benar, dan PUPR sebagai PPK nya kenapa meloloskan (Subkon) nya," kata Syamsul, bendahara Gapeknas Tubaba, Kamis, 22 Agustus 2019.



Amrinsyah, dari gabungan pengusaha Kontruksi Indonesia (Gepeksindo) menuturkan, sebelumnya, PT Brantas Abipraya selaku pemegang tender utama pembangunan pasar Pulungkencana, senilai Rp79 milyar rupiah, membuka tender internal untuk subkontraktor pengerjaan penimbunan senilai lebih dari Rp 2 milyar rupiah.

"Sepengetahuan kami yang mengikuti lelang internalnya tidak ada nama CV Agung Jaya makmur, yang lolos uji laboratorium saat itu adalah PT dari Bandar jaya, yang kedua CV Maju lancar dari Tulangbawang barat, dasarnya apa kok CV Agung Jaya makmur dari Menggala bisa menang," ujarnya.

Para anggota asosiasi kontraktor lokal ini menduga telah terjadi praktek monopoli pengelolaan proyek dana pinjaman dari PT sarana multi infrastruktur (SMI) yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait, sehingga berdampak pada kualitas pengerjaan pasar Pulungkencana.

Sebelumnya, pada Rabu, 7 Agustus 2019 silam, serombongan DPRD Tubaba melakukan kunjungan ke lokasi proyek pembangunan pasar yang terletak di tiyuh Pulungkencana kecamatan Tulangbawang tengah tersebut dan menemukan praktek penimbunan pondasi dasar dengan material tanah bercampur dengan sampah plastik.

EDITOR

Setiaji Bintang Pamungkas

TAGS


KOMENTAR