SUKADANA (Lampost.co) -- Dinas Perikanan dan Peternakan Lamtim meminta warga agar tetap mewaspadi serangan penyakit rabies yang ditularkan melalui gigitan hewan penular rabies (HPR). Pasalnya disamping merupakan salah satu jenis penyakit yang sangat berbahaya, Kabupaten Lamtim juga selama ini memang dikenal sebagai salah satu daerah merah serangan penyakit rabies di Provinsi Lampung.

Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Lamtim, KMS Thohir Khanafi, Senin (2/4/2018) kepada Lampost.co menjelaskan, penyakit rabies merupakan jenis penyakit yang menyerang hewan penular rabies (HPR) seperti, anjing, kucing, atau kera. Penyakit ini sendiri tergolong sangat berbahaya. Sebab disamping bisa menular kepada manusia melalui gigitan HPR yang mengidap penyakit rabies, penyakit itu juga cukup mematikan.



Ia mengatakan memang dampak dari serangan penyakit berbahaya ini bagi manusia yang tertular tidak langsung seketika dan memakan waktu lama, apalagi jika gigitan HPR itu pada bagian kaki misalnya. Karena proses bekerjanya virus rabies seperti itu, maka korban atau keluarganya kerap lalai dan mengira bahwa setelah diobati seadanya penyakit itu sembuh. Padahal jika tidak diobati atau ditangani secara serius, virus rabies yang ada di dalam tubuh korban sebenarnya belum hilang dan masih terus bekerja. Setelah satu, dua atau tiga tahun barulah serangan virus rabies ini sampai ke otak. Dan jika sudah menyerang otak maka penyakit tersebut tidak bisa diobati lagi dan korban dipastikan akan meninggal dunia.

Di cap sebagai salah satu daerah merah serangan penyakit rabies di Provinsi Lampung karena populasi HPR khususnya anjing di Kabupaten Lamtim memang tergolong cukup tinggi. Kemudian kasus gigitan HPR terhadap manusia di Lamtim juga terhitung cukup banyak setiap tahun.

Berdasarkan data yang ada di Dinas Perikanan dan Peternakan Lamtim, pada 2017 tercatat setidaknya 25 warga warga Lamtim di sejumlah kecamatan  digigit HPR khususnya anjing yang diduga atau suspect terjangkit penyakit rabies. Jumlah tersebut diperkirakan lebih banyak lagi, karena data itu juga baru yang dilaporkan oleh warga ke petugas peternakan.

Sementara kasus gigitan HPR yang tidak dilaporkan ke petugas peternakan kecamatan atau Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten diduga masih ada lagi. Kemudian pada 2018, tercatat sudah dua orang warga yang digigit HPR suscpect rabies, terakhir balita di Desa Labuhan Ratu VIII, Kecamatan Labuhan Ratu, juga menjadi korban gigitan anjing. Meski belakangan anjing yang menggigit korban negatif rabies.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR