GAWAT Darurat Hoaks. Itu judul opini saya di rubrik ini beberapa hari lalu. Hoaks yang kandungannya fitnah, ujaran kebencian, dan karangan menyeramkan ibarat makanan, menjadi menu sehari-hari masyarakat. Celakanya, banyak di antara kita yang merasakan nikmat ketika menyantap menu kabar horor itu. Peristiwa jatuhnya pesawat Lion Air di Pantai Karawang Senin (29/10) tak urung pula diolah sedemikian rupa menjadi hoaks.

Untuk meyakinkan penggemar hoaks, kabar bohong pun dibumbui dengan kalimat religi, sampai-sampai ada warganet (yang menulis jatuhnya pesawat Boeing 373 itu sebagai azab dari Tuhan karena manusia telah kualat menggunakan udara sebagai sarana untuk bertransportasi. Soal ini, katanya, tidak diatur dalam kitab suci.



Musibah itu juga dimanfaatkan politikus busuk pendukung salah satu calon presiden untuk "berkhotbah". Memanfaatkan aji mumpung kecelakaan Lion Air, ia menulis di akun medsosnya seperti ini, "Sejak SBY lengser. Musibah, bencana, terus silih berganti menimpa negeri kita. Mohon doa untuk bisa berubah suasana lebih baik di 2019. Insya Allah, negeri kita kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Atas rida Illahi. Amin."

Media Abal-abal

Media sosial (medsos) memang telah, sedang, dan akan dimanfaatkan habis-habisan oleh produsen dan penggemar hoaks setelah mereka tidak kuasa dan tak berdaya memanfaatkan media massa resmi yang dipagari rambu-rambu, seperti UU Pers, kode etik jurnalistik, norma-norma, dan etika lainnya.

Tak kurang akal, para produsen dan penghobi hoaks kemudian memanfaatkan media daring abal-abal untuk menyalurkan pikiran dan tindakan kotornya. Padahal, selain tak terdaftar di Dewan Pers, media daring itu juga tidak berbadan hukum. Media abal-abal ini lazimnya muncul saat ada hajatan pemilu kepada daerah (pilkada), pemilu legislatif, dan terutama pemilu presiden (pileg).

Supaya meyakinkan publik, media daring abal-abal itu sengaja dibuat dan diluncurkan menggunakan nama-nama pop (khalayak umum) dan "surgawi" (khalayak khusus) untuk memunculkan kesan bahwa pengasuh atau awak redaksinya adalah orang-orang saleh. Ironisnya, banyak anggota masyarakat—maaf—terutama yang tak berpendidikan dan tak berpengajaran, percaya dengan berita-berita recehan yang dimuat di portal-portal berita semacam itu dan kemudian menyebarluaskannya tanpa berpikir panjang.

Sayangnya pula, ada anggota masyarakat yang sebenarnya waras dan berpendidikan tinggi yang percaya dengan berita bohong dan bombastis yang dimuat di situs-situs semacam itu. Beruntung lewat grup-grup WhatsApp (WA), mereka bertanya kebenaran berita tersebut dan direspons bahwa berita itu hoaks oleh mereka yang tahu.

Guna memproduksi hoaks secara sistematis, terstruktur, dan masif, jumlah portal abal-abal itu kini tak berbilang. Sekadar informasi, di Indonesia saat ini diperkirakan ada 40 ribuan portal berita/opini. Bayangkan, dari jumlah itu, yang terverifikasi di Dewan Pers hanya 200-an alias cuma 0,5%!

Selebihnya, tentu portal abal-abal. Portal recehan inilah yang belakangan, terutama mendekati pileg dan pilpres, sedang bermesraan dan bercumbu rayu dengan media sosial dan aplikasi pesan WA yang dikelompokkan oleh para ahli komunikasi sebagai dark social.

Dark Social

Jika arus dan penyebaran informasi di era kekinian tersebut digambarkan dalam sebuah lingkaran besar, dark social menempati posisi lebih dari tiga perempat lingkaran. Di wilayah itulah, hoaks, ujaran kebencian, fitnah, agitasi, insinuasi, dan sejenisnya beredar dan dianggap sebagai kebenaran.

Media sosial menempati porsi kurang dari separuh lingkaran besar, sedangkan media massa berbadan hukum (koran, media online, radio, dan televisi) porsinya sangat kecil. Kita menduga Facebook, Twitter, dan sejenisnya adalah media sosial yang paling banyak digunakan oleh masyarakat dunia dalam melakukan interaksi sosial di dunia maya, termasuk dalam menyebarluaskan berita.

Namun, berdasarkan data yang dirilis Hadium One Social tahun 2016, dugaan itu ternyata keliru. Pasalnya, masyarakat dunia (termasuk di Indonesia tentunya), ternyata lebih senang bermain di wilayah dark social. Aplikasi chatting seperti WA, Line, Messenger Facebook, Telegram, dan sejenisnya ternyata dimasukkan dan berada di wilayah ini.

Berbeda dengan media sosial (Facebook, Twitter, YouTube, Instagram) yang terbuka, di wilayah dark social, sesuai dengan istilah yang dipakai semuanya serbagelap dan sulit dipantau. Di dunia gelap itulah para penjahat informasi komunikasi menyebarluaskan informasi sesat.

Ujung-ujungnya, kita sering menerima pesan di grup-grup WA yang tak jelas asal-usulnya. Bahkan, guna meyakinkan anggota grupnya, sebuah tulisan disalin-tempel sedemikian rupa dengan mencantumkan nama seorang tokoh, seolah-olah tokoh itu yang menulis.

Beberapa hari lalu pascajatuhnya pesawat Lion Air JT 610, di WA beredar puisi yang disebut atau diklaim ditulis oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani. Namun, saya sempat meragukan (maaf), apakah benar Sri Mulyani mampu menulis puisi seindah itu?

Keraguan itu saya patahkan dengan logika lain. Ah, jangan-jangan memang Sri Mulyani yang menulis puisi tersebut, sebab ada sejumlah pejabat Kementerian Keuangan di Bangka Belitung yang juga menumpang pesawat nahas tersebut. Kemarin beredar kabar baru bahwa puisi yang sebelumnya dipercayai ditulis Sri Mulyani ternyata ditulis seorang pemilik akun Facebook bernama Jayaning Hartami.

Kementerian Perindustrian mencatat saat ini terdapat 24 perusahaan manufaktur komponen produk ponsel dan tablet di dalam negeri. Berdasarkan laporan e-Marketer, pengguna aktif smartphone di Indonesia akan tumbuh dari 55 juta orang pada tahun 2015 menjadi 100 juta orang tahun 2018.

Dengan jumlah tersebut, Indonesia akan menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah Tiongkok, India, dan Amerika. Saya pastikan, para pengguna smartphone juga memiliki aplikasi WA dan menggunakannya untuk membagi-bagi informasi. Dengan kata lain, disadari atau tidak, mereka melakukan aktivitas di ruang gelap sosial (dark social).

Mendekati pileg dan dan pilpres, saya menduga, penjahat informasi akan semakin bergentayangan menyebarluaskan hoaks, dan agitasi berbungkus agama. Semoga aparat terkait siap mengantisipasi berbagai kemungkinan yang sudah menggejala dan telah terjadi. Ini sekaligus tantangan bagi media massa yang telah terverifikasi di Dewan Pers agar tidak larut terbawa arus menuju ke wilayah sosial yang serbagelap sehingga menjadi sebuah dilema tak bersolusi.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR