TEPAT di seberang tempat pemberhentian kami makan siang, ada toko retail 7-Eleven (Sevel). Sejak turun bus tadi, sudah terpikir untuk mampir ke sana.

Karena kurang selera dengan menu di restoran yang kami kunjungi, saya langsung menyeberang ke Sevel saja mau mencari onigiri (nasi kepal berbentuk segitiga yang dibungkus rumput laut), di Korea disebutnya samgak kimbab. Isinya beraneka ragam, ada tuna, daging ayam, atau sayuran. Tiga kimbab, tiga kotak susu pisang khas Korea, dan sebungkus makanan ringan kuambil dari rak pajangan dan menuju kasir.



"Berapa?" kutanya pada bapak kasir dengan bahasa Inggris.

Mungkin karena dia kurang paham bahasa Inggris, maklum saja di Korea tidak semua bisa berbahasa Inggris, dia menunjukkan layar komputer hasil hitung-hitungannya. Aku pun segera mengeluarkan uang dan membayarnya. Transaksi selesai.

Aku sempat bingung, karena dia tidak memberi kantong plastik untuk membawa barang belanjaanku. Aku pun tidak membawa tas untuk memasukkan belanjaan itu. Ternyata, di Korea sudah sejak lama menerapkan diet kantong plastik. Alhasil, aku sedikit kerepotan membawa barang belanjaan itu. Dalam hati bersyukur tadi yang dibeli cuma tujuh barang itu. Bagaimana kalau belanjaanku lebih banyak lagi, mau dibawa pakai apa? Tak terbayang repotnya kedua tangan ini membawa barang-barang itu.

Per 1 Maret 2019, di Indonesia salah satu toko retail menerapkan kantong plastik berbayar bagi konsumen yang tidak membawa kantong belanjaan. Satu kantong plastik dihargai Rp200.

Karena tidak tahu informasinya, saat berbelanja saya pun tidak membawa kantong belanjaan. Mau enggak mau harus membayar kantong plastik untuk membawa belanjaan yang cukup banyak. Tapi, untuk belanja selanjutnya aku sudah menyiapkan kantong belanjaan. Niatnya sih mau ikut diet plastik untuk mengurangi sampah yang mengancam kehidupan manusia di masa depan itu.

Sayangnya, saat berbelanja berikutnya si kasir tidak bertanya lebih dulu pada konsumen apakah membawa kantong belanjaan. Dia langsung memasukkan belanjaan ke kantong plastik. Tadinya kupikir, karena banyak reaksi konsumen, kebijakan kantong plastik berbayar itu dicabut lagi. Tapi, saat kulihat nota belanjaan, ternyata tercantum harga kantong Rp200. Duh, padahal kan saya sudah membawa kantong belanjaan. Kenapa kasirnya langsung membebankan plastik ke konsumen, seolah toko retail ini menjual kantong plastik.

Bukan masalah Rp200 per kantong plastik yang harus dibayar konsumen, nilai itu bukanlah suatu yang besar. Tapi, semestinya yang dibangun kesadaran konsumen untuk ikut menyukseskan Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP). Lebih baik konsumen tidak diberi pilihan selain membawa kantong belanja sendiri seperti di Korea, jadi kan GIDKP ini bisa berjalan. Dan, target Indonesia mengurangi sampah plastik 70% di 2025 bisa terwujud. Yuk, kita ikut mengurangi sampah plastik mulai sekarang!

BERITA LAINNYA


EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR