MAT Wenger menggerutu saat di SPBU. Itu karena dia mengisi bahan bakar Rp200 ribu tapi jarumnya tidak penuh. Padahal, biasanya dengan jumlah segitu tangkinya hampir penuh.

"Mbak ini enggak jujur, ya? Jangan curang, Mbak! Saya biasanya ngisi Rp200 ribu hampir penuh. Masa ini cuma segini?" kata Mat Wenger sambil memarahi pelayan SPBU. Dia menuduh bahwa takaran dalam SPBU tersebut dikurangi.



"Ini jujur, Mas, takarannya pas kok. Memang Mas belum tahu kalau harga pertalite naik?” jawab pelayan SPBU tersebut kepada Wenger.

"Astaga, naik lagi toh BBM? Naik kok diem-diem bae! Dahulu biasanya kalau naik selalu ramai. Tapi kok sekarang diem-diem aja, yang demo pun jarang, di media juga sedikit beritanya. Listrik naik tinggi juga diem-diem bae," lanjut Wenger.

Memang, dalam selang tidak terlalu lama, PT Pertamina kembali menaikkan harga jual bahan bakar minyak nonsubsidi. Per 24 Maret 2018, harga pertalite dan solar nonsubsidi naik masing-masing Rp200 per liter. Sebelumnya, harga pertalite hanya Rp7.600 per liter.

Sejak Januari 2018 Pertamina telah menaikkan harga pertalite dua kali. Pada 20 Januari 2018, Pertamina menaikkan harga pertalite Rp100 per liter menjadi Rp7.600 per liter. Alhasil, kenaikan harga pada Maret 2018 ini merupakan kenaikan yang kedua kalinya dalam tiga bulan terakhir. Sementara bulan lalu, Pertamina menaikkan harga jual BBM seri pertamax.

Kenaikan ini karena mengikuti perkembangan harga pasar dan menyebabkan gap atau selisih harga pertalite dan premium makin tinggi. "Tapi, aku nyari premium di mana-mana juga enggak ada. Setiap mau ngisi, yang ada hanya tulisan 'Maaf Premium Kosong' atau kadang-kadang 'Maaf Premium Sedang dalam Pengiriman'," kata Wenger lagi.

BBM merupakan salah satu kebutuhan masyarakat, sehingga ketika mengalami kenaikan, akan cukup berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat. Dengan harga yang lebih murah dibanding dengan pertamax dan kualitas lebih baik dibanding dengan premium, banyak masyarakat beralih ke pertalite.

Buat masyarakat yang kegiatan ekonominya membutuhkan BBM, tentu kenaikan pertalite ini sangat berdampak. Apalagi, dengan kenaikan ini tentu masyarakat yang sudah beralih ke pertalite dari premium akan merasa kecewa. Namun, ketika akan membeli premium, juga langka. Tentu ini menambah kekecewaan. "Sakitnya tuh di sini."

Pemerintah perlu segera menambah pasokan premium sebagai langkah untuk mengantisipasi terjadinya kepanikan di masyarakat. Banyak masyarakat kecewa karena selama ini sudah diarahkan untuk beralih ke pertalite, tetapi harganya dinaikkan. Pemerintah harus hadir. Pemerintah perlu menugaskan Pertamina untuk menambah lagi premium.

Tapi, tenang, jangan panik, nanti harga-harga juga akan turun pada waktunya. Biasanya kalau sudah dekat-dekat pemilu gitu. n

EDITOR

Abdul Gofur

TAGS


KOMENTAR