LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 16 July
7816

Tags

LAMPUNG POST | Diaspora Lampung
Diaspora. mobilecommunityzim.com

Diaspora Lampung

KEMENTERIAN Dalam Negeri (Kemendagri) pada 30 Juni 2016 merilis jumlah penduduk Indonesia mencapai 257.912.349 jiwa. Tahun ini, data berbagai lembaga mengungkap sudah mencapai 260 juta orang. Potensi yang luar biasa jika sepersepuluh dari jumlah itu adalah anak-anak bangsa pemilik kemampuan dan berenergi membangun negeri ini lebih baik lagi.
Di luar negeri saja, ada 6 juta paspor Indonesia tersebar di seluruh dunia. Artinya, ada 6 juta warga Indonesia yang menetap di negeri orang. Dua juta di antaranya adalah tenaga kerja Indonesia (TKI) yang tinggal di berbagai belahan dunia. Mereka ini disebut diaspora.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan diaspora adalah masa tercerai-berainya suatu bangsa yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Dan, bangsa tersebut tidak memiliki negara, misalnya, bangsa Yahudi sebelum negara Israel berdiri pada 1948. Diaspora sendiri berasal dari bahasa Yunani kuno, berarti penyebaran atau penaburan.
Dalam kaitannya pergerakan manusia, diaspora merujuk pada penduduk yang menetap di negara lain karena berbagai faktor. Misalnya, perang atau mencari penghidupan lebih baik. Dalam era globalisasi, Diaspora menjadi kekuatan ekonomi baru bagi sebuah bangsa. Jika dahulu disebut sebagai perantau, istilah tersebut bergeser disebut diaspora.
Adalah Dino Patti Djalal, penggagas Indonesian Diaspora Network (IDN), mengungkapkan istilah diaspora Indonesia memiliki arti warga negara Indonesia yang tinggal di luar negeri yang terbagi dalam empat kelompok. Dino merajut anak bangsa yang sukses menyelenggarakan Kongres IV Diaspora Indonesia di Jakarta, Sabtu (1/7/2017).
Hadir sebagai pembicara utama dalam kongres itu adalah Presiden ke-44 Amerika Serikat (AS) Barack Hussein Obama. Indonesia merupakan negara Asia pertama dikunjungi Obama sejak pensiun dari presiden pada Januari 2017. Kongres itu dihadiri sekitar 9.000 orang yang datang dari 153 kota dari 55 negara di seluruh dunia.
Sebanyak 27 perwakilan dalam kongres itu mengungkapkan meski hidup dan tinggal di negeri orang, hatinya tetap di bumi Indonesia. Adalah Obama sendiri mengaku, "Indonesia bagian dari diri saya". Di depan peserta kongres, Obama juga berjanji, yayasan miliknya akan bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memberikan beasiswa kepada anak-anak Indonesia agar bisa mengejar cita-cita mereka.
Obama juga menyampaikan pesan khusus rakyat dan diaspora Indonesia agar membiasakan diri berbuat kebaikan. Diaspora merupakan aset besar bangsa bagi pembangunan negeri ini.
Mantan Presiden AS yang pernah tinggal di Jakarta itu mengatakan agar bangsa Indonesia terus membangun komunikasi untuk memperkecil perbedaan. Banyak pemimpin di negeri ini yang sulit berkomunikasi dengan baik sehingga pembangunan menjadi tersumbat.  

***

Diaspora sendiri terbagi menjadi empat kelompok. Pertama, WNI yang tinggal di luar negeri yang masih memegang paspor Indonesia secara sah. Kedua, anak bangsa yang telah menjadi warga asing karena proses naturalisasi, dan tidak lagi memiliki paspor Indonesia. Ketiga, menurut Dino Djalal, warga negara asing yang memiliki orang tua atau leluhur yang berasal dari Indonesia.
Kelompok diaspora terakhir adalah warga asing yang tidak memiliki pertalian leluhur dengan Indonesia, tetapi memiliki kecintaan terhadap bangsa ini. Jika keempat kelompok digabungkan, jumlahnya mencapai 8 juta orang. Bagaimana lembaga diaspora rakyat perantauan menyatu? Seperti Lampung, memiliki Forum Komunikasi Persaudaraan Lampung Perantauan (FK-PLP) yang dinakhodai Zulkifli Hasan.
Anak bangsa patut mencontoh Gerakan Ekonomi dan Budaya Minangkabau (Gebu Minang). Organisasi rakyat Minang ini sukses menghimpun dana dan membina potensi di perantauan.
Pendirian Lembaga Gebu Minang, pada 24 Desember 1989, dipelopori tokoh Sumatera Barat, antara lain Azwar Anas, Awaluddin Djamin, Bustanil Arifin, Emil Salim, Harun Zain, Hasan Basri Durin, Hasyim Ning, Sjafaroeddin Sabar. Tokoh-tokoh ini merasa terpanggil.
Mereka mendirikan Gebu Minang bukan untuk kendaraan politik atau urusan pencitraan, tetapi lebih mencintai membangun daerah. Awalnya Gebu Minang adalah Gerakan Seribu Rupiah Minang, mengumpulkan duit sebesar seribu rupiah setiap warga Minang di perantauan. Dananya untuk membangun kampung halaman. Terakhir, gerakan ini berubah menjadi Gerakan Ekonomi dan Budaya Minang. 
Pendiri Gebu Minang adalah tokoh nasional asal Sumatera Barat. Lampung memiliki banyak tokoh nasional juga, antara lain Nadjib Riphat Kesoema, Ryamizard Ryacudu, Zulkifli Hasan, Jimly Asshiddiqie, Siti Nurbaya, Sri Mulyani, Aburizal Bakrie, Sjachroedin ZP, Rahmad Darmawan, Edward Syah Pernong, dan lainnya. Lampung memangil putra terbaik perantauan untuk sama-sama saling mengingatkan membangun Bumi Ruwa Jurai.
Terinspirasi pesan Obama dalam pidato di Kongres Diaspora, yang mengatakan warga negara agar membiasakan diri berbuat kebaikan. Tersirat nasihat amat mulia agar kita tidak saling menghujat, menyebarkan rasa permusuhan, menjatuhkan, memfitnah, juga membuka aib. Jika masih memakai cara-cara penjajah, dipastikan bangsa ini tidak bisa menjadi negara maju.
Posisi Indonesia, juga Lampung, di pasar global sangat strategis. Daerah ini menyimpan kekayaan alam dan hasil bumi superhebat. Di sepanjang pantai Pesisir Barat berdiam turis berolahraga surfing (selancar).
Ratusan pulau dan laut di teluk Lampung, juga tidak kalah indahnya dengan wisata di Gili Trawangan, Bunaken, juga Raja Ampat di Papua. Saatnya mengingatkan diaspora Lampung terus berkomitmen membangun daerah!  ***

LAMPUNG POST

BAGIKAN


TRANSLATE

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv