DIARE menjadi salah satu penyakit yang umum diderita oleh anak. Namun, diare akut dan terus berulang dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan pada anak karena penyerapan nutrisinya terganggu. Oleh karena itu, orang tua perlu mengetahui penanganan diare yang tepat agar tidak berkelanjutan.
Dokter spesialis anak Rumah Sakit Harapan Kita, Ariana Dewi Widodo, menyampaikan diare adalah kondisi saat penderita mengalami buang air besar lebih dari tiga kali sehari dalam 24 jam dengan kondisi feses yang cair. Penyebab diare yang paling umum adalah infeksi pada usus oleh virus, bakteri atau parasit. Namun, penyebab diare pada anak yang terbanyak adalah karena rotavirus.
"Rotavirus invasif menyerang usus dan sering mengakibatkan dehidrasi dalam waktu cepat serta mengancam jiwa," ujar Ariana dalam acara temu media dan bloger dengan tema Indonesia merdeka diare yang diselenggarakan oleh Nutrisicia Sarihusada di Jakarta, Selasa (22/8/2017).
Ariana menjelaskan rotavirus menyerang vili usus, yakni bagian paling ujung pada usus halus, lama-kelamaan menyebabkan kerusakan jontot usus. Rusaknya jontot usus, membuat produksi enzim yang berguna untuk pencernaan nutrisi, di antaranya enzim laktase menjadi berkurang.
"Enzim laktase berguna untuk mencerna gula alami yang terdapat antara lain pada susu. Laktosa yang tidak tercerna akhirnya tidak dapat terserap dan menyebabkan diare makin berat. Kondisi ini biasa disebut dengan intoleransi laktosa," ujar Ariana.
Ciri-ciri diare dengan intoleransi laktosa pada anak, dapat dilihat dari diare cair berlebihan, kembung, sakit perut, sering buang gas, tinja berbau asam, dan sekitar anus berwarna kemerahan karena berkontak dengan asam dalam waktu lama.
Saat diare ibu perlu memerhatikan agar anak tidak mengalami dehidrasi dan kekurangan gizi. Ibu dapat memberikan penanganan awal di rumah dengan memberikan oralit sebagai pengganti cairan untuk menghindari terjadinya dehidrasi.
"Pemberian oralit kalau bisa cairan oralitnya diganti sekitar 10 cc per kilogram berat anak setiap kali mencret. Kalau anak tersebut beratnya 8 kilogram, oralit diberikan sebanyak 80 cc setiap diare."
Pemberian oralit belum cukup menangani diare, ibu harus meneruskan memberikan air susu ibu (ASI) pada anak yang masih membutuhkan karena ASI adalah asupan nutrisi terbaik bagi anak.

Konsultasi Dokter



Lantas, kapan ibu harus berkonsultasi ke dokter pada saat anak diare? Ariana mengatakan ketika buang air besar (BAB) anak frekuensinya sangat sering dengan tinja cair disertai muntah berulang-ulang. Kondisi ini berbahaya karena cairan pengganti sulit masuk ke tubuh dan mengakibatkan dehidrasi pada anak. Ketika diare akut, anak tampak sangat haus, lemas atau tidak dapat minum lagi, buang air kecilnya sedikit, atau tinjanya bercampur darah.
"Jika dalam waktu tiga hari diarenya tidak membaik atau tidak ada perubahan, perlu dibawa ke dokter," ujar dia.
Pada kesempatan yang sama, Brand Manager Disgestive Care Sari Husada, Nabhila Chairunissa, menyampaikan berdasarkan data riset kesehatan dasar 2013, rata-rata anak di Indonesia mengalami diare 2—6 kali per tahun, 60% disebabkan karena rotavirus, dan 30% anak yang terkena infeksi rotavirus mengalami intoleransi laktosa. 

loading...

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR