AKHIR pekan lalu, PWI Tulangbawang Barat (TBB) dan Portal Desa Lampung Post bercengkerama dengan kepala tiyuh (desa) se-Kabupaten TBB di Horison Hotel, Bandar Lampung. Saat bersama utusan Polda dan Kejati Lampung di sesi pendampingan Dana Desa saya terkejut karena di akhir sesi itu terkesan desa telah mendahului di masa depan dengan sistem komunikasi online.

Kesan itu timbul seusai pemateri menyampaikan pokok-pokok masalah, di sesi dialog tidak seorang pun peserta yang angkat tangan. Setelah didesak moderator, akhirnya salah seorang bertanya, intinya seberapa jauh media bisa menyampaikan pada mereka informasi anggaran dan hal-hal baru lainnya dari pemerintah daerah.



Hal itu terjadi karena sebenarnya apa yang disampaikan pemateri telah mereka ketahui selain melalui proses pengalaman dalam pekerjaan mereka, juga melalui media online. Bahkan melalui media online, aparat desa telah mendahului di masa depan dalam mencari segala informasi terkait bidang tugasnya.

Oleh karena itu, ketika muncul satu pertanyaan justru bersifat “menantang”, seberapa jauh media (media arus utama maupun online) mampu memenuhi kebutuhan informasi terkait pemerintahan daerah. Dalam kenyataannya, informasi dari pemerintahan daerah, apalagi terkait anggaran, kalangan media sendiri sering amat terbatas mendapatkannya.

Padahal, di sisi lain, para kepala tiyuh sendiri sudah terbiasa berselancar di dunia maya mencari sendiri kebutuhan informasinya. Juga dalam berkomunikasi online di kalangan mereka, masyarakat desa dan sekitarnya, baik lewat pertemanan (Facebook), grup (WA), maupun saling mengikuti (Twitter/Instagram).

Dengan jaringan broadband tersedia untuk internet dan ponsel android yang sudah menjadi mainan sehari-hari warga desa, kini warga desa tidak lagi tertinggal dalam segala dimensi perkembangan zaman. Segala hal yang bisa dinikmati orang kota lewat internet, lewat ponsel, termasuk hiburan di Youtube, pada saat yang sama juga telah dinikmati warga desa.

Desa, kini telah berada di masa depan. Siapa pun yang masih berasumsi desa kawasan inferior, mereka sudah ketinggalan zaman sejak cara berpikirnya. Itulah mungkin salah satu jawaban, kenapa lagu dangdut Siti Badriyah Syantik bisa tembus 300 juta klik hingga masuk World Record dan Billboard yang lazimnya hanya dikuasai penyanyi Barat.

Di zaman now, orang kota jika mau ke desa harus mematut-matut diri karena alam pikir warga desa telah mendahului hidup di masa depan.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR