KALIANDA (lampost.co) -- Kekeringan mulai mengancam tanaman padi petani di sejumlah desa di Kecamatan Palas, Lampung Selatan, Selasa (31/7/2018). Tanaman usia 1 sampai 1,5 bulan mulai menunjukkan kekurangan air, bahkan ada beberapa laham mulai nampak kering dan retak-retak.

Berbagai upaya dilakukan untuk menyelamatkan tanaman mereka, diantaranya dengan memanfatkan mesin pompa air yang diambil dari aliran sungai atau sumur bor. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan air untuk mengairi lahan mereka.



Seperti yang dialami Winarya (42) petani asal Desa Bumidaya, Kecamatan Palas. Dia mengaku lahan seluas 3/4 hektare miliknya mulai kering kerongkang. Untuk menyelamatkan tanaman padi miliknya yang kini berumur 1 bulan, ia harus menyedot air dari sumur bor.

"Dari awal tanam hingga sekarang belum ada hujan yang turun. Lahan sawah sudah kelihatan kering dan retak-retak. Mau enggak mau harus sedot air. Lantaran belum ada biaya, saya biarkan dulu. Lagian, saat ini semua sumur bor airnya mulai sedikit yang keluar," kata dia saat ditemui di lahan sawah miliknya, Selasa (31/7/2018).

Menurut Winarya, untuk biaya sedot air petani harus mengeluarkan biaya lebih. Sebab, biaya sedot air satu kali dalam luas 1/4 hektare bisa mengeluarkan biaya Rp300 ribu - Rp400 ribu. Bahkan, biaya itu bisa lebih dari kebutuhan lahan sawah.

"Tapi, itu masih lihat dulu kondisi lahannya. Kalau sudah kering kerontang, pasti perlu banyak air. Paling saat ini saya hanya sedot air satu kali saja. Minimal lahan sawah lembab," kata dia.

Dia mengaku dengan kondisi kemarau itu ia bersama petani lainnya pasrah jika upaya sedot air ini tidak berhasil. "Harapan kami jika sampai masa panen belum juga turun hujan, air yang kami sedot nantinya untuk membasahi sawah bisa membuahkan hasil walau hanya 40 persen saja," katanya.

 

EDITOR

Ricky Marly

TAGS


KOMENTAR