KALIANDA (Lampost.co)  -- Kedua tangan wanita itu sibuk menenteng puluhan bungkusan kemplang siap dijual di Pelataran Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan, Rabu (20/6/2018). Wanita paruh baya itu pun menawarkan kepada setiap penumpang, baik dari Pulau Sumatera - Jawa maupun sebaliknya.

Tanpa tebang pilih, wanita yang kini menjanda itu menawarkan setiap bungkusan kemplang di tengah hilir mudik para pemudik. Tanpa rasa lelah dan letih, ia habiskan waktunya untuk berjualan kemplang.



Wanita itu Sukawati (35) namanya. Dia merupakan warga Desa Kenyayan, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan. Wanita yang kerap disapa Wati itu salah satu wanita yang mengambil kesempatan saat arus mudik dan balik hari raya Idulfitri 1439 Hijriah di Pelabuhan Bakauheni. Dia mengais rezeki berjualan kemplang untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarganya.

"Ya, mumpung lagi liburan lebaran, mas. Biasanya kalau liburan lebaran di Pelabuhan Bakauheni ramai. Jelas, saya manfaatkan berjualan Kemplang. Ya, lumayan lah buat kebutuhan sehari-hari, " kata dia.

Dinginnya angin laut menerpa tubuh wanita janda tiga orang anak itu. Namun, hal ini seperti tidak dihiraukannya lagi demi menghidupi anaknya. Sebab, ketiga anaknya masih sekolah dan semuanya masih membutuhkan banyak biaya.

"Ya, mau gimana lagi, mas. Anak masih pada sekolah dan perlu biaya. Belum lagi untuk kebutuhan sehari-hari. Dengan hanya berdagang kemplang yang saya bisa lakoni. Ya, hampir empat tahun lamanya saya berjualan kemplang," kata dia.

Menurut Wati, harga kemplang yang ia jual seharga Rp15 Ribu per empat bungkus. Harga itu tentu tidak sebanding dengan lelahnya dan hasil berdagang dari sebelum terbit matahari sampai tengah malam yang dilakoninya.

"Kalau ramai seperti hari libur panjang saat ini mampu meraup untung kisaran Rp300 ribu. Penghasilan ini sudah paling besar dibandingkan seperti hari hari biasa yang hanya mendapatkan untung kurang dari Rp100 Ribu per harinya," kata dia. Armansyah

EDITOR

Abdul Gofur

TAGS


KOMENTAR