HARI Kartini baru saja diperingati beberapa waktu lalu. Pada momentum itu, tembok media sosial berikut media massa dipenuhi berita tentang penghargaan pada perempuan. Berbagai instansi menyelenggarakan kegiatan untuk menyemarakkan peringatan. Ada lomba, pemberian motivasi, hingga penyerahan penghargaan pada perempuan inspiratif.

Hari itu, ucapan selamat berikut sanjungan bertaburan. Ada ucapan selamat dari anak kepada ibunya; suami pada istrinya. Namun, “habis gelap terbitlah terang" yang dicetuskan RA Kartini untuk kaum perempuan dirusak oknum laki-laki dewasa tidak berperikemanusiaan.



Seorang ibu dengan anaknya dipersekusi di tengah kerumunan manusia saat Car Free Day di Bundaran HI, Jakarta, Minggu (29/4). Puluhan laki-laki dewasa yang mengenakan kaus bertuliskan #2019GantiPresiden mengibaskan uang di wajah Susi Ferawati yang mengenakan kaus bertuliskan #DiaSibukKerja. Di video yang viral, tampak Susi terus berjalan sambil menggandeng tangan anaknya.

Sang anak ketakutan melihat ulah laki-laki dewasa pada ibunya. Susi berupaya menenangkan anaknya. Namun, usaha ibu menenangkan anaknya itu gagal. Buah hati Susi justru semakin menangis ketakutan. Di peristiwa itu, persekusi puluhan laki-laki dewasa tampaknya tidak menyurutkan nyali Susi. Ia menunjukkan keberaniannya pada segerombolan oknum yang tertawa puas saat mempertontonkan rasa pengecutnya.

Namun, betapa nahas kondisi psikologis sang anak: ketakutan! Dia tidak tahu mengapa ibunya diserang. Bocah itu tidak tahu siapa puluhan laki-laki barbar yang menyeringai bak serigala yang siap menerkam domba.

Tidakkah puluhan laki-laki itu juga memiliki istri dan anak. Bagaimana mungkin kaum adam yang seharusnya melindungi perempuan dan anak justru bahagia melihat ketakutan di wajah anak itu. Tangis buah hati Susi nyatanya tidak meredakan ego puluhan laki-laki dewasa itu. Air mata sang bocah tidak mampu mematikan api kekejaman yang merajai hati para bapak yang menjelma menjadi kaum radikal itu.

Radikalisme umumnya dipicu oleh kemiskinan, pendidikan rendah, dan pemahaman sempit terhadap ajaran agama. Entah faktor mana yang mendominasi di gerombolan laki-laki berkaus hitam itu. Seperti warna pakaiannya, hitam. Demikian pula hatinya gelap. Mereka tidak mampu mengutamakan nilai kemanusiaan pada peristiwa itu. Naluri kebapakannya tidak tersentuh dengan isak sang anak.

Ibu dan ayah mana yang rela anaknya menangis ketakutan akibat ulah para preman jalanan macam itu? Tidak ada. Siapa pun tidak ada yang mau istri dan anaknya jadi korban kezaliman oknum barbar nan pengecut.

Radikalisme itu harus disudahi. Banyak ibu yang kini sedang pilu dan marah melihat kekerasan yang diterima anak tersebut. Semoga kepolisian segera mendapat titik terang atas kasus ini agar gulita yang kini melanda berganti temaram. Dan, temaram menjadi terang yang menghangatkan.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR