LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 14 September
2586
LAMPUNG POST | Debora dan Komersialisasi Layanan Kesehatan
Ilustrasi komersialisasi layanan kesehatan. 2.bp.blogspot.com

Debora dan Komersialisasi Layanan Kesehatan

KEHILANGAN nyawa seorang anak, bagi orang tua mana pun, niscaya menjadi momen yang menguras air mata. Akan tetapi, menyaksikan anak yang disayang meninggal dunia sia-sia hanya gara-gara sikap rumah sakit yang menolak melayani pasien karena orang tua korban tidak mampu dan tidak segera membayar biaya perawatan sungguh sebuah tragedi yang menyesakkan dada.
Kasus Debora, bayi mungil berusia empat bulan yang meninggal dunia di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kalideres, Jakarta Barat, ialah sebuah contoh betapa menderitanya menjadi orang miskin yang sanak keluarganya jatuh sakit, sedangkan di saat yang sama tidak ada sistem jaminan layanan kesehatan yang benar-benar berpihak kepada mereka.
Bayangkan, hanya gara-gara tidak mampu membayar uang muka yang diminta RS, Debora, bayi nahas itu, akhirnya meninggal dunia karena tidak sempat mendapatkan pertolongan dan penanganan yang semestinya.
Di luar kasus Debora, kita tahu masih banyak kasus serupa yang memperlihatkan bagaimana orang-orang miskin senantiasa diperlakukan berbeda. Juni 2017 lalu, bisa dibaca di berbagai media massa seorang bayi prematur dilaporkan juga meninggal dunia setelah ibunya ditolak di delapan rumah sakit di Bekasi untuk bersalin darurat dengan alasan ruang ICU penuh. Apa yang menjadi penyebab RS dan layanan kesehatan di Tanah Air seolah telah kehilangan kepekaan dan nurani mereka kepada nasib masyarakat miskin?

Komersialisasi

Kritik terhadap sikap pongah dan layanan kesehatan yang pilih kasih di negeri ini sebetulnya sudah lama menjadi keprihatinan berbagai pihak. Berbeda dengan akta pendirian RS dan sumpah dokter yang diwajibkan menjalankan fungsi sosial tanpa pandang bulu, dalam praktiknya diskriminasi justru sering terjadi karena pertimbangan kepentingan komersial lebih mengedepan daripada pertimbangan kemanusiaan.
Menurut ketentuan, khususnya di Pasal 29 Ayat (1) f UU No. 44/2009 telah disebutkan setiap RS berkewajiban melaksanakan fungsi sosial, antara lain memberikan fasilitas pelayanan bagi pasien tidak mampu dan pelayanan gawat darurat tanpa uang muka. Dalam UU rumah sakit dan peraturan menteri kesehatan dengan jelas telah disebutkan bagaimana keselamatan dan nyawa manusia harus ditempatkan lebih penting daripada kepentingan komersial. Akan tetapi, dalam pelaksanaan di lapangan ketentuan-ketentuan hukum yang mengikat itu ternyata tidak selalu berjalan seperti yang diharapkan.
Dengan berbagai dalih, sering kali masyarakat miskin masih dihadapkan pada kewajiban membayar uang muka, dan membayar biaya pengobatan yang jika tidak dipenuhi, konsekuensinya layanan yang dibutuhkan tidak segera didapat. Alih-alih memperoleh layanan terbaik, dalam kenyataan tidak sedikit kasus membuktikan bagaimana orang miskin ketika sakit memperoleh layanan diskriminatif, diperlakukan semena-mena hanya karena mereka pasien BPJS atau Jamkesmas.
Kisah orang miskin yang harus antre mulai pukul 02.00 di RS, ditolak di sana-sini dengan dalih tidak ada kamar kosong, dan bagaimana mereka harus antre berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan untuk dapat dioperasi, ialah kisah yang sering dialami orang-orang miskin akibat ketidakberdayaan dan kerentanan mereka.
Komersialisasi yang kini merambah ke berbagai lembaga dan praktik layanan kesehatan tidak hanya menyebabkan munculnya sikap superior dalam layanan medis yang berjarak dengan pasien, tetapi juga sikap diskriminatif. Orang miskin dilarang sakit. Pernyataan retorik ini muncul bukan tanpa alasan. Fakta di lapangan memang banyak memperlihatkan betapa merana dan menyedihkan nasib orang-orang miskin yang menderita sakit, sedangkan di saat yang sama mereka tidak memiliki uang cukup untuk membayar perawatan kesehatan yang dibutuhkan.
Robert Chambers (1987) menyatakan sakit dan terpaksa harus berobat di RS bagi keluarga miskin ialah roda penggerak yang sering kali membuat mereka masuk pusaran spiral kemiskinan yang makin dalam dan menyengsarakan. Meski pemerintah telah mengover biaya si miskin berobat selama mereka sakit, penghasilan si miskin selama sakit yang hilang karena tidak dapat bekerja sering membuat keluarga-keluarga miskin makin terpuruk. Pada titik inilah berharap orang miskin mampu membayar biaya berobat layaknya orang yang mapan tidaklah mungkin mereka lakukan.
Pihak pengelola RS yang tidak memiliki empati kepada nasib orang miskin dan hanya mengedepankan kepentingan komersial niscaya tidak akan pernah peka dan mau peduli kepada ketidakmampuan pasien miskin. Jangankan berkomitmen memberikan layanan terbaik tanpa pandang bulu, dalam kenyataan bukan tidak mungkin sebuah RS memilih menolak berisiko rugi menangani pasien yang miskin dan memperlakukan layanan kesehatan layaknya komoditas yang dijual dengan pertimbangan untung-rugi sebagaimana dilakukan para kapitalis.

Rasa Kemanusiaan

Dalam bukunya, Birth of the Clinic (1963), Michel Foucault jauh-jauh hari telah melihat terjadinya pergeseran ilmu kedokteran, dari yang berfokus pada kesehatan yang masih menyediakan ruang bagi pasien untuk menjadi dokter bagi dirinya sendiri pada abad ke-18 menuju konsepsi ilmu kedokteran yang berfokus pada normalitas di saat tubuh pasien menjadi subjek tatapan yang berdaulat dari sang dokter di dalam tatanan klinis rumah sakit modern (Beilharz, 2002:130).
Menurut Foucault, semua perubahan dan medikalisasi kehidupan yang terjadi di masyarakat modern niscaya merupakan bentuk keberhasilan kekuatan industri budaya menaklukkan, mengeksploitasi, dan memanipulasi pasar untuk tujuan meraih keuntungan. Ketika posisi tenaga medis dan lembaga layanan medis makin superior, yang terjadi bukan hanya menurunnya posisi bargaining pasien, melainkan juga meningkatnya sikap pongah dan harga yang harus dibayar masyarakat terhadap jasa lembaga layanan kesehatan yang makin komersial.
Kasus meninggalnya Debora ialah sebuah pelajaran pahit yang seharusnya menjadi tempat untuk berkaca. Di era masyarakat modern, lembaga layanan kesehatan yang kehilangan hati dan nurani niscaya ujung-ujungnya hanya akan melahirkan tragedi yang menyesakkan dada. Di mana letak rasa kemanusiaan kita jika keuntungan ditempatkan lebih penting daripada nyawa manusia?

LAMPUNG POST

BAGIKAN


TRANSLATE

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv