GARA-gara debat, calon presiden AS dari Partai Republik Richard Nixon menelan kekalahan karena wakil presiden petahana ini tidak mampu menarik simpati publik. Dia berdebat tentang kebijakan luar negeri  Paman Sam. Nixon hanya didukung media, sedangkan calon presiden dari Demokrat, yakni John F. Kennedy berkemampuan menarik atensi publik. 
Dalam debat calon presiden yang digelar tahun 1960 silam itu, bertemakan Perang dingin dibagi dalam tiga sesi pembahasan. Pertama, mengenai Kuba. Ketika itu, Nixon menyebut Kuba pantas mendapatkan kebebasan tapi Kennedy berpendapat tidak seharusnya Kuba jatuh ke komunis seperti Fidel Castro. Kehati-hatian Kennedy itu hanya menarik simpati publik.
Begitu pun tanggapan jatuhnya pesawat mata-mata AS di Uni Soviet dan pembatalan konferensi AS-Uni Soviet. Kennedy berpendapat jatuhnya pesawat bukan alasan menghentikan konferensi. Tapi Nixon mengatakan Uni Soviet memang tidak berniat untuk bertemu AS. Pada sesi terakhir, keduanya saling mengkritisi kebijakan luar negeri. Kendati Nixon memenangi debat,  yang menjadi Presiden AS adalah Kennedy.
Debat sangat berpengaruh. Sebab, ada kelompok undecided voters yang belum menentukan pilihan dan swing voters atau pemilih mengambang. Seorang psikolog politik UI Hamdi Moelek pernah mengatakan ada dua kategori pemilih dalam pesta demokrasi. Pertama, kelompok yang sudah menentukan pilihan dari jauh hari. Kedua, kelompok yang belum menentukan pilihan hingga hari pencoblosan (undecided voters). 
Pentingnya debat kandidat menjadi patokan rakyat menentukan siapa calon presiden, gubernur, dan bupati/wali kota yang bakal dipilih. Pada tataran rakyat yang ceras, visi misi program kandidat calon pemimpin harus diketahui publik. Janganlah rakyat diajari membeli kucing dalam karung. Kandidat harus detail memaparkan visi misi yang realistis bukan menjual obat dan kecap di kaki lima—yang banyak cuapnya.
Sukses debat kandidat diukur dari kesiapan pasangan calon memaparkan visi misi, calon pun memiliki integritas–jujur, bersih, dan tak memiliki kepentingan pribadi atau kelompok. Kandidat mewakili publik karena ia menyandang jabatan publik bukan ketua kelompok. Ingat itu! Rakyat menginginkan calon pemimpinnya mampu mengelola kebutuhan publik, akuntabel, santun, serta ramah mewujudkan good governance.
Debat itu juga sebagai pendidikan politik bagi rakyat untuk memilih pada hari pencoblosan. Makanya, pasangan calon kepala daerah tidak asal omong, apalagi saling serang menggunakan gaya rumor saat debat. Yang jelas, debat sangat berpengaruh terhadap popularitas dan elektabilitas pasangan calon jika isi debat mengarah pada adu gagasan guna memperbaiki kepentingan publik. 
***
Pentingnya debat calon agar rakyat bisa membandingkan antarpasangan calon. Bukan jual kecap tau ngacap di pasar kaki lima. Paling penting meyakinkan rakyat agar mereka berbondong-bondong menuju tempat pemungutan suara (TPS) pada hari pencoblosan. Peran panelis dan moderator sangat strategis memandu debat agar menjadi lebih cerdas dan berkualitas.
Di Lampung, debat pasangan calon gubernur dan wakil gubernur berlangsung, Sabtu pekan lalu (7/4). Pada debat putaran pertama itu, hadir empat pasangan calon, yakni Muhammad Ridho Ficardo-Bachtiar Basri (nomor urut 1), Herman HN-Sutono (2), Arinal Djunaidi-Chusnunia Chalim (3), dan Mustafa--Ahmad Jajuli yang diwakili Jajuli (4).
Selama ini, dalam perjalanan debat kandidat  sering pasangan calon kurang siap dalam menjawab pertanyaan moderator. Dan ini sangat tidak elok dilihat dan didengar pemilih. Kebanyakan calon tidak fokus dalam menjawab pertanyaan–terkadang menyerang pasangan lain. Pasangan calon sering demam panggung. Mereka tidak lugas ketika menjawab pertanyaan.
Debat akan ditonton rakyat manakala menyangkut persoalan aktual yang melilit anak bangsa seperti kenaikan biaya listrik dan bahan bakar minyak (BBM), kemiskinan, ekonomi, pendidikan, kesehatan, penataan jalan  serta infrastruktur. Pasangan calon perlu menajamkan program dan visi misi–bukan jargon kosong yang hanya jadi isapan jempol. Pastinya rakyat tidak akan mendapatkan sesuatu ketika ia memimpin nanti.
Tiga kali putaran debat kandidat pada pemilihan kepala daerah–pasangan calon, moderator, panelis, dan juga penyelenggara pemilihan kepala daerah (KPU) mampu membangun dan memperbanyak atmosfer yang mampu mengubah pandangan skeptis terhadap perhelatan pesta rakyat ini. Dalam setiap hasil survei, angka elektabilitas paling tinggi berada di kelompok masyarakat yang belum menentukan pilihan.
Artinya, debat itu sangat strategis. Ketika debat tidak maksimal–yang  rugi adalah rakyat. Dana untuk membiayai debat di gedung mewah itu didukung APBD dan APBN, ratusan juta bahkan miliran rupiah. Harusnya anak-anak bangsa di lembah dan atas gunung, di seberang pulau menikmati acara debat secara langsung tanpa hambatan. Sehingga rakyat tidak salah memilih pemimpinnya. Debat calon gubernur dan wakil gubernur, Sabtu pekan lalu, di hotel berbintang empat, belumlah maksimal! Sebab, belum banyak disaksikan masyarakat Lampung.   
Debat dikatakan sukses apabila meningkatkan angka partisipasi publik terhadap pilkada. Juga mampu mengelaborasi kemampuan pasangan calon. Ingat! Rakyat akan menyaksikan dua kali putaran debat lagi; pada 28 April dan 11 Mei. Mereka menunggu kepiawaian komisioner KPU merancang debat yang lebih cerdas lagi agar terlihat kematangan emosional dan kemampuan calon pemimpinnya dalam menyejahterakan rakyat.  ***

  
 
 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR