DATA satu juta pengguna Facebook (FB) di Indonesia dicuri oleh Cambridge Analytica. Itu bagian dari 87 juta pengguna FB seluruh dunia yang digunakan juru kampanye pemenangan Trump di Pilpres AS 2016. Indonesia urutan ketiga besarnya data yang dicuri, setelah AS (70,6 juta) dan Filipina (1,1,juta).

Inggris, Meksiko, Kanada, India, Brasil, Vietnam, dan Australia kena ratusan ribu pengguna. "Secara total kami pikir informasi FB 87 juta orang—kebanyakan di AS—kemungkinan telah dibocorkan ke Cambridge Analytica," tulis keterangan pers FB. (Kompas-Tekno, 5/4)



Kendati demikian, pihak FB mengatakan tidak tahu persis data apa saja yang dibocorkan ke Camdridge Analytical. Jumlah pengguna tersebut perkiraan yang dinilai terbaik untuk mencakup angka maksimal akun terdampak.

Cambridge Analytical adalah konsultan politik yang digunakan Donald Trump dalam Pilpres AS 2016. Mantan diektur pengembangan bisnis konsultan tersebut, Brittany Kaiser, yang berakhir masa kontrak kerjanya membawa cetak biru presentasinya ke The Guardian. "Ini adalah kumpulan kampanye digital berbasis data yang digunakan Trump," ujarnya.

Dalam cetak biru setebal 27 halaman itu tampak Cambridge Analytical melakukan berbagai metode, yakni penelitian, survei intensif, pemodelan data, dan mengoptimalkan penggunaan alogaritma untuk menargetkan sebanyak 10.000 iklan berbeda untuk audiens yang berbeda-beda sesuai dengan data diri mereka.

Menanggapi kasus ini, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan sudah berkoordinasi dengan Polri sebagai antisipasi penegakan hukum secepatnya.

"Penggunaan data yang tidak semestinya oleh penyelenggara sistem elektronik (PSE) bisa melanggar Peraturan Menteri Kominfo tentang Perlindungan Data Pribadi (PDP) dan UU ITE," tegas Ridiantara. "Sanksinya bisa mulai dari sanksi administratif, hukuman badan sampai 12 tahun, dan denda sampai Rp12 miliar."

Menkominfo menyatakan tidak segan memblokir FB jika memang diperlukan. Tentu harus melalui prosedur dan aturan yang berlaku di Indonesia.

Di sisi lain, FB telah menghapus 273 akun dan laman yang diduga terafiliasi dan dioperasikan organisasi asal Rusia, Internet Research Agency (IRA). Ratusan akun ini jadi “alat” untuk memengaruhi pengguna dalam Pilpres AS 2016 yang memenangkan Trump.

Menurut Chief Security Officer FB Alex Stamos, IRA secara konsisten menggunakan akun-akun tersebut untuk memanipulasi serta menipu para pemilih dengan menyebar berita palsu.

loading...

EDITOR

Abdul Gofur

TAGS


KOMENTAR