BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Lembaga Atvoksi Perempuan Damar Lampung, merasa Kecewa atas putusan rendah terhadap pelaku kekerasan seksual terhadap anak di bawah Umur yang terjadi belakangan ini. Hal itu diungkapkan Sofian Hadi, Koordinator Program Lembaga Advokasi Perempuan Damar, Jumat (13/7/2018).
Menurut Sofian, semestinya aparat penegak hukum seperti kepolisian, jaksa dan  hakim lebih peka terhadap kasus yang menipa anak di bawah umur belakangan ini terus meningkat. Rendahnya vonis hukuman yang diberikan merupakan salah satu faktor maraknya predator anak. "Jadi pelakunya ini berpikirnya dihukum juga rendah, makanya dia kemungkinan akan melakukan perbuatanya lagi," katanya.

Aparat, kata dia, tidak memikirkan seperti apa nasib para korban kekerasan, trauma yang diarasakanya, pemulihan akibat kekerasan sangat lama waktunya. "Damar kecewa mendengar vonis rendah terhadap pelaku kekerasan seksual terhadap anak ini, karena sudah semestinya pelaku ini dikenakan pasal perlindungan anak dengan hukuman maksimal 15 tahun penjara, jangan hanya 8-9 tahun penjara," katanya.
Sofian bahkan menyebut jika saat ini Provinsi Lampung darurat kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, karena dari data yang mereka himpun hampir setiap tahun angka melonjak naik.dia juga menyampaikan keprihatinannya atas meningkatnya praktik kekerasan terhadap perempuan yang notabene merupakan pelanggaran HAM ini. 
Berdasarkan angka statistik pada tahun 2017 yang menunjukkan terdapat 273 kasus tentang tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak. Kasus terbanyak,adalah kekerasan seksual, kemudian disusul dengan kasus KDRT. Dari kasus tersebut, remaja dan anak-anak menjadi obyek yang paling sering menjadi korban.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR