MENGGALA (Lampost.co) -- Selasa pagi (24/10/2017). Pasar Modern Unit II seperti biasa ramai para pengunjung dan pedagang bertransaksi. Tampak laki-laki paruh baya berkemeja lengan pendek merapikan dagangannya.
Lelaki berkopiah itu merupakan satu dari ratusan pedagang yang mengadukan nasibnya, menjemput rezeki dari Ilahi di salah satu pasar terbesar di Kabupaten Tulangbawang tersebut. Sembari menunggu pembeli datang menghampirinya, lelaki itu mulai menyusun satu per satu dagangannya di sebuah papan yang dimodifikasi hingga menjadi lapaknya berdagang.
Edi Suherman, demikian nama laki-laki kelahiran Kota Padang, Sumatera Barat, 20 Agustus 1959, itu yang sehari-hari berdagang berbagai macam peralatan di pasar tersebut. Ditemui di lapaknya yang berada di depan salah satu toko pakaian kawasan pasar setempat. Edi sapaan akrabnya di kalangan pedagang setempat mengaku genap seperempat abad.
Kepada Lampost.co ia mengaku telah tinggal di kabupaten yang berjuluk Sai Bumi Nengah Nyappur sejak lama. “Saya pertama kali masuk ke Tulangbawang sekitar tahun 1992," kata dia.
Edi menceritakan sebelum memulai usahanya, ia terlebih dahulu bekerja di sebuah rumah makan. Kemudian, dari upahnya bekerja. Sebagian ia sisihkan untuk ditabung.
Berkat ketekunannya ia kini punya usaha sendiri. "Saya bekerja ngikut orang dulu sekitar enam tahunan. Sekitar 1998, saya mulai buka usaha. Hasil dari tabungan saya kerja."
Ia menjelaskan berbagai macam peralatan kini menjadi sumber penghasilan, yakni alat-alat pertanian, alat tukang, alat listrik, maupun alat kunci sepeda motor yang ia beli dari Bandar Lampung. "Kalau ada yang cari koret, pacul, gembok, gunting, gergaji, pisau, gagang golok, mata pahat, palu, berbagai jenis obeng, benang sol, rantai, dan selang kompa di sini ada. Alat-alat yang ringan saja kok. Namanya dagang kecil-kecilan," ujarnya.
Ia mengaku tidak mampu memastikan berapa jumlah dari hasilnya berdagang. "Dagang ini, Mas, untung-untungan. Waktu pas ramai ya lumayan hasilnya. Waktu pasnya sepi, ya pulang dengan tangan hampa," kata dia. 

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR