KITA berbeda-beda, tetapi tetap satu Asia. Melalui Asian Games 2018 yang resmi dibuka pada 18 Agustus 2018, Indonesia akan menjadi titik berkumpulnya energi. Asian Games berawal dari sebuah cita-cita Guru Dutt Sondhi asal India. Ia ingin menjadikan olahraga sebagai alat membangun solidaritas antarbangsa Asia Barat, yang baru mulai melepaskan diri dari cengkeraman imperialisme.

GD Sondhi bukanlah satu-satunya. Negara-negara lain di Asia memiliki mimpi serupa. Maka dari itu, ketika Perdana Menteri India pertama, Pandit Jawaharlal Nehru, mengajukan tawaran menggelar pesta olahraga bernama All Asian Games dalam Konferensi Hubungan Negara-Negara Asia di New Delhi pada 1947, seluruh peserta menyambut gembira.



Presiden Indonesia pertama, Ir Soekarno, melihatnya sebagai peluang memperkenalkan Indonesia yang baru seumur jagung kepada dunia. Langkah pertama ialah dengan berperan aktif dalam lahirnya Asian Games Federation di Patiala House, New Delhi, pada 13 Februari 1949. Indonesia diwakili Abu Bakar Lubis sebagai atase media massa negara untuk menandatangani memorandum.

Langkah kedua ialah dengan mengajukan diri menjadi tuan rumah. Seperti yang kita ketahui, Indonesia gagal meyakinkan negara-negara lain. Kegagalan berlanjut pada Asian Games kedua dan ketiga yang menjadi milik Filipina dan Jepang. Barulah pada edisi yang keempat, Nusantara dipercaya menggelar Asian Games.

Bagi Bung Karno, Asian Games ialah sebuah momentum. Ada kesempatan emas bagi Indonesia membangun karakter dan bangsa (nation and character building). Jakarta, pada awal 1960-an, belum memiliki jaringan jalan raya yang menyatukan seluruh penjuru kota dan gedung-gedung pencakar langit.

Stadion Ikada yang berkapasitas 15 ribu penonton ialah satu-satunya stadion yang tersedia. Jelas bahwa dibutuhkan stadion baru dengan daya tampung yang sesuai untuk acara berskala sebesar Asian Games.

Oleh sebab itu, dibangun sebuah stadion megah di kawasan Senayan, salah satu yang terbesar di dunia, yang kini kita kenal dengan nama Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK). Majalah Hong Kong, The Asia Magazine, mendeskripsikan konstruksinya sebagai “suatu prestasi yang tak tertandingi dalam sejarah olahraga di Asia dan bahkan di dunia”.

Pembuktian Indonesia

Ide tidak berhenti sebatas membangun stadion, tetapi juga kompleks olahraga berisi venue-venue lain (kolam renang, istana olahraga, dan lapangan hoki) yang berintegrasi dengan kampung atlet. Proyek ini dianggap terlalu besar dan rumit untuk Indonesia. Koran The Strait Times asal Singapura menuliskan judul Lonceng Kematian Asian Games telah Berdentang di Jakarta menyusul kebakaran atap SUGBK yang diduga merupakan upaya sabotase.

Bung Karno tidak gentar sedikit pun. Ia justru membangun pelbagai infrastruktur pendukung seperti Jalan Mohammad Husni Thamrin, Hotel Indonesia, patung Selamat Datang, jembatan layang Semanggi, hingga Televisi Republik Indonesia. Sebuah warisan yang terus kita nikmati hingga sekarang.

Jepang, sang tuan rumah Asian Games edisi sebelumnya, tercengang melihat kemampuan dan kefasihan Indonesia menggelar Asian Games ke-4. Negara-negara peserta lain pun akhirnya mengakui bahwa Indonesia merupakan bangsa terhormat, tidak kalah saing dengan negara-negara yang lebih tua.

Lebih jauh lagi, Bung Karno menyadari bahwa Asian Games memiliki makna strategis untuk mendorong terwujudnya persaudaraan, perdamaian, dan kemajuan yang lebih erat dan pesat antarnegara Asia. "Tidak boleh ada suatu kesempatan dibiarkan lewat untuk menambah eratnya kerja sama internasional, baik bilateral maupun regional dalam segala lapangan," ucap Bung Karno ketika diwawancarai George Krausz dari Neues Deutschland, seperti yang dikutip Amin Rahayu dalam Asian Games IV 1962: Motivasi, Capaian, serta Revolusi Mental dalam Keolahragaan di Indonesia.

Patut diingat bahwa kepercayaan negara-negara Asia terlahir dari kesuksesan Indonesia menjadi tuan rumah dalam Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung pada 1955. KAA perdana ini membuat 29 negara peserta sadar bahwa mereka kuat dengan berjalan bersama-sama.

Sportivitas dan Persahabatan

Semangat itulah yang turut menggerakkan Asian Games setiap empat tahunnya. Asian Games seakan menjadi pengingat setia bahwa negara-negara Asia tidak berjalan sendiri-sendiri meski juga saling berkompetisi. Tentu, tidak ada arena kompetisi paling sehat selain ajang olahraga.

Dari olahraga, kita belajar mengenai hubungan intim antara kerja keras dan keabadian, bahwa hasil tidak pernah mengkhianati usaha. Pun ketika kalah, kita belajar untuk kembali berdiri. Mengakui keunggulan lawan dengan semangat sportivitas dan saling berjabat tangan sebagai tanda persahabatan.

Total 45 negara peserta dipastikan ambil bagian dalam Asian Games 2018. Lebih dari 11 ribu atlet akan bersaing sampai batas kemampuan mental dan fisik untuk memperebutkan 465 medali emas yang tersedia. Sekitar 8.350 awak media yang berasal dari seluruh penjuru dunia telah siap mengabadikan nama-nama para juara.

Asian Games 2018 ialah motor pendorong bagi kelanjutan pembangunan fisik dan jiwa bangsa sekaligus hadiah dari Indonesia untuk Asia dan dunia. Selama beberapa pekan ke depan, kita harus membuktikan bahwa Indonesia bukan sekadar tuan rumah yang baik, melainkan juga rumah bersama, rumah segala bangsa.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR