BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Hasil pendataan yang dilakukan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Bandar Lampung, hanya 30 persen dari sekitar 300 perusahaan berskala besar di Kota Tapis Berseri yang berkenan mempekerjakan penyandang disabilitas.

“Kami sedang mendata ulang sembari mengingatkan perusahaan-perusahaan memperkerjakan pegawai penyandang disabilitas,” kata Kepala Bidang Penempatan Kerja Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Bandar Lampung, Muhammad Kabul.



Dia mengaku perusahaan memperdayakan tenaga kerja penyangdang disabilitas di Bandar Lampung memang masih minim.

Padahal sudah jelas pada UU 8 Tahun 2016 Pasal 53 Ayat 2 disebutkan bahwa perusahaan swasta wajib mempekerjakan paling sedikit 1% penyandang disabilitas dari jumlah karyawan.

“Ya dari 100 karyawan, minimal harus ada satu penyandang disabilitas. Kami akan terus perjuangkan karena penyandang disabilitas juga punya hak untuk bisa bekerja,” kata dia.

Kabul mengatakam para penyandang disabilitas ini, meski ada kekurangan, namun ada juga kelebihan dari mereka. Apalagi para penyandang disabilitas ini memang ada pelatihan terlebih dahulu. "Ya sesuai dengan kondisinya. Yakinlah mereka juga mampu melakukan pekerjaannya dengan baik,” kata dia.

Pihaknya sudah mulai menjembatani agar lulusan Sekolah Luar Biasa (SLB) bisa mendapatkan pekerjaan di perusahaan. Seperti menempatkan pekerja disabilitas di UKM Batik Gabofira setelah sebelumnya menjalani pelatihan terlebih dahulu.

Tahun lalu, kata Kabul, pihaknya sudah memberikan sertifikat kemampuan bekerja pasca pelatihan kepada 30 penyandang disabilitas. "Kita juga mendorong para penyandang disabilitas mendaftarkan kartu AK1 atau kartu kuning di Disnaker. Ini agar bisa kita tempatkan di perusahaan-perusahaan,” kata Kabul.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR