SUKADANA (Lampost.co)--Tak seperti biasanya, danau Way Jepara yang tak pernah kekurangan air yang jernih itu, terlihat keruh seperti endapan lumpur. Musim kemarau tahun ini membuat waduk Danau Wayjepara, Lampung Timur, tidak mampu mengairi sawah yang ada di tiga kecamatan yaitu, Kecamatan Way Jepara, Labuhanratu dan Brajaselebah. Volume air danau saat ini hanya tinggal 19.480 meter kubik.

Kepala KPD pengairan Wayjepara, Sulaman, melalui Oprasional dan Pemeliharaan Marjianto, saat ditemui di kantornya, Selasa (12/9/2017), mengatakan penyusutan air danau sudah sangat memprihatinkan selain berdampak kemarau juga berdampak dengan kondisi hutan sekitar Danau yang sudah banyak dihuni masyarakat.



Jika kondisi normal volume air danau bisa mencapai 36.825000 meter kubik, dan bisa mengairi sawah seluas 5.198 hektare yang membentang di Kecamatan Way Jepara, Labuhanratu dan Brajaselebah."Jika normal petani bisa melakukan tanam selama tiga kali selama satu tahun," ujar Marjianto.

Hingga saat ini kondisi irigasi tehnis (ledeng) yang bersumber dari danau kondisinya kering, pihak pengairan belum bisa memastikan sampai kapan akan di aliri kembali. "Pintu utama kami tutup karena volume dan debit air danau tidak mencukupi," kata Marjianto.

Selain itu, sejumlah irigasi baik jaringan primer sepanjang 18,177 kilo meter dan jaringan Sekunder 43.458 kilo meter dalam proses pengecekan, untuk dilihat titik titik yang mengalami kerusakan agar nantinya jika sudah musim tanam dan air danau siap di alirkan ke sawah sawah irigasi tidak ada yang rusak, kerusakan irigasi menyebabkan pemborosan air hingga 30 persen. "Kalau talud irigasi retak atau pecah tentu air akan meresap ke tanah dan mengurangi fungsi air," kata pegawai Pengairan bagian Oprasional dan Pemeliharan Marjianto.

Danau Wayjepara yang saat ini kondisinya mengalami pendangkalan menjadi salah satu penyebab terhentinya sumber sumber air danau karena tersumbat oleh lumpur, pemerintah pusat sudah mendatangai alat untuk melakukan penyedotan lumpur, namun belum selesai dalam pengerjaan. "Sudah berhenti belum diteruskan kami juga tidak tau kenapa pengerukan danau dihentikan," jelas Marjianto.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR