BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Lembaga Advokasi perempuan Damar melakukan pendampingan kepada dua siswi di SMPN Bandar Lampung yakni, Y (12) dan N (12) yang menjadi korban dugaan asusila rekan sekolahnya sendiri berinisial H.
Selain itu, pihak sekolah juga diduga mengeluarkan keduanya dan H, atas dugaan perbuatan asusila.
Meda Fatmawati selaku advokat dari Damar mengatakan, kejadian bermula pada 20 Maret 2018 saat itu H diduga memaksa Y untuk berbuat tidak senonoh di lingkungan kelas saat jam pelajaran berlangsung, kemudian N juga diduga jadi korban serupa.
Selanjutnya, para siswi tersebut dipanggil ke ruang Bimbingan Konseling dan disebutkan berbuat asusila. "Selanjutnya orang tua mereka pun dipanggil," ujarnya kepada Lampost.co, Senin (26/3/2018).

Meda menjelaskan, kedua siswi dan pelaku dikeluarkan oleh pihak Sekolah. "Orang tua mereka juga diminta menandatangani surat megundurkan diri," ungkapnya.
Karena peristiwa tersebut, Damar mendampingi korban melaporkan kejadian tersebut ke kepolisian. Pertama laporan dugaan perbuatan tak menyenangkan di Polsek Kedaton dengan nomor LP 312/III/2018/LPG/Restabalam/Sektorkedaton dengan terlapor berinisial S, yakni oknum guru sekolah tersebut, karena sempat mencubit pipi korba dan menghalangi korban menemui kepala sekolah.



Kemudian laporan ke Polresta Bandar Lampung dengan nomor Laporan LP B-1/1426/III/2018/LPG/RestaBalam, atas dugaan perbuatan asusila dengan terlapor inisial H, siswa yang diduga melakukan perbuatan asusila tersebut.
"Kami juga sudah mencoba menghadap Kabid Dikdas Disdikbud Kota Bandar Lampung Eka Afrina, namun beliau tak ada di kantornya pada Senin (26/3/2018)," paparnya.
Terpisah Kepala SMPN tersebut berinisial SR membantah dugaan tersebut. Menurutnya, pemanggilan para siswanya karena ada informasi yang masuk dari murid lain, mereka berbuat tidak senonoh saat jam pelajaran berlangsung.
"Jadi mereka dipanggil karena berbuat asusila, orang tuanya pun kami panggil, usai kejadian tersebut," katanya saat dikonfirmasi Lampost.co.
SR juga membantah siswinya dikeluarkan dan ada dugaan unsur pemaksaan, untuk menandatangani surat pengunduran diri, oleh orang tua.
"Jadi kami panggil, dan diskusikan. Karena orang tuanya malu, makanya minta mundur. Kita juga enggak ngeluarin secara paksa. Kami juga bersedia kasih rekomendasi surat kalau mau pindah," katanya.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR