WAKTU bakda asar seolah menjadi alarm bagi anak-anak untuk berkumpul di lapangan ujung kampung. Bermodal bola plastik dan gawang imaginer yang dibatasi dengan dua buah sandal jepit, lapangan tanah berdebu itu seperti arena bermain yang membius.

Saking besar dosis biusnya, terkadang baru sadar ada luka yang menganga di ujung jempol saat kaki terbasuh air waktu mandi usai bermain. Atau, biusnya seperti setan yang membisikkan kami untuk melewatkan waktu mengaji menjelang magrib.



Terlepas dari nilai keseruannya, sepak bola saat itu membuat kami sering meninggalkan hal yang lebih penting, seperti mengaji atau menimba air di rumah.

Karena sering terlena dalam euforia bermain, tak jarang guru mengaji kami harus menjemput kami di lapangan dengan membawa rotan untuk memaksa kami beranjak ke musala. Sepak bola seakan bertentangan dengan kehidupan religi kami.

Belasan tahun berlalu, saya tetap menggilai olahraga ini. Kabar baiknya, akhir-akhir ini saya merasakan bahwa ternyata dalam sepak bola terdapat pesan dakwah di balik kerasnya permainan. Saya melihat itu setelah mengenal sepak bola seperti Mohammed Salah yang baru saja membawa Liverpool juara Liga Champions Eropa.

Selain menjadi mesin gol Liverpool dan Timnas Mesir, ternyata pemain kribo ini juga punya kehidupan pribadi yang membuat orang lain merinding kagum. Di atas rumput hijau, lihat saja usai salah mengoyak jala lawan. Hal pertama yang ia lakukan ialah mengingat Allah dengan melakukan sujud syukur atau melakukan gestur tauhid dengan mengacungkan jari ke atas.

Gerak tubuh lainnya saat bermain juga mencerminkan akhlaknya. Betapa dia dengan mudah memaafkan pemain lain yang membuatnya cedera parah pada laga mahapenting di final Liga Champions tahun lalu. Sepanjang bermain di atas lapangan, senyumnya pun tak pernah surut terkulum sebagai refleksi keramahannya kepada pemain lain.

Bagaimana dengan kehidupan di luar lapangan? Nah, ini saya bilang tadi hingga membuat saya bergidik terpesona. Saat perjalanan menuju tempat berlatih atau bertandang ke markas lawan, kerap atlet bernama lengkap Mohammed Salah Ghaly ini tertangkap kamera membaca ayat Alquran. Betapa dia merupakan pribadi yang taat.

Saat menyunting sang istri, Maggi, Pemain Terbaik Afrika itu blak-blakan mengumumkan pernikahannya dan membuka pintu lebar-lebar bagi siapa saja untuk datang ke resepsi pernikahannya.

Meski telah menorehkan prestasi moncer di dunia sepak bola, Salah tak melupakan tanah kelahirannya dengan membantu orang-orang miskin, rumah sakit, sekolah, dan teman-temannya di masa kecil dulu.

Di balik semua polah Salah, ada begitu banyak nilai dakwah yang dapat kita diserap. Fenomena ini membuktikan bahwa sepak bola bisa menjadi sarana untuk berdakwah.

Bagaimana dengan kita, sudahkan kita memanfaatkan hobi, karier, atau kebiasaan kita untuk kepentingan dakwah atau memberikan inspirasi bagi orang lain untuk berbuat baik?

 

 

loading...

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR