ZAKI yang usianya belum genap 11 tahun itu tiba-tiba menjadi perhatian warga dan panitia lomba tarik suara yang diadakan warga di RT 18, Kelurahan Kemiling Permai, Bandar Lampung, kemarin (16/8) malam. Pergelaran itu merupakan rangkaian kegiatan kepemudaan dalam rangka HUT ke-73 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Dengan fasihnya, siswa kelas IV sekolah dasar itu melantunkan lagu Jawa yang biasa dinyanyikan Via Vallen. Ayah Zaki pun seakan tak percaya, putra sulungnya begitu piawai menyanyikan lagu Jawa. Sebab, Zaki dibesarkan oleh ayah dan ibunya yang asli berdarah Lampung.



Sontak penonton mengacungi jempol buat bocah itu. Giliran pun tiba pada peserta lomba tarik suara yang lain. Kali ini Anggun dengan fasihnya menyanyikan lagu Tapanuli, Sumatera Utara. Para juri ikut manggut-manggut mendengarkan lantunan suara anggun yang bersekolah di salah satu SMP di Bandar Lampung. Padahal, Anggun asli gadis berdarah Serang, Banten.

Terbukti, perbedaan ras telah melebur dalam jiwa pemuda dan pemudi Indonesia. "Mari beri tepuk tangan untuk Zaki dan Anggun!" kata Ketua RT 18 Sukadi yang baru saja terpilih.

Kemeriahan tujuh belasan ini benar-benar dirasakan warga. "Sudah tujuh tahun ya kita tidak menggelar acara seperti ini," ujar salah seorang warga. Harapan kita ke depan, warga semakin kompak dan peduli terhadap keamanan dan kebersihan lingkungan. Tujuh belasan ini jadi momen penting warga di sini," timpal Ketua RT.

Heri yang tergolong warga dituakan di RT 18 pun menimpali. Tujuh belasan ini, kata dia, banyak ditunggu-tunggu para narapidana juga. Sebab, di hari peringatan kemerdekaan kita ini, para napi pun mendapatkan potongan tahanan, tak terkecuali napi kasus korupsi.

Semoga saja Hari Kemerdekaan yang diperingati di seluruh Tanah Air ini bisa menyadarkan para koruptor, betapa mereka telah mengkhianati rakyat.

Selain itu, jangan sampai mencontoh oknum aparatur sipil negara di Kabupaten Pesawran. Ketika orang lain dengan khidmatnya mengikuti jalannya upacara HUT RI, dia malah mondar-mandir membawa tas dan nongkrong makan siomay. Menyedihkan sekali!

Sangking malunya karena difoto oleh waratawan, oknum tersebut merampas ponsel yang digunakan untuk memfoto. Namun, perselisihan itu akhirnya cair juga. Bagitulah dahsyatnya kebinekaan kita.

 

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR