BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Effendi Saputra (25) warga Jalan Cut Nyak Dien, Kelurahan Palapa, Tanjung Karang, Bandar Lampung dituntut satu tahun penjara dalam sidang di Pengadilan Negeri Kelas 1A Bandar Lampung, Rabu 18 September 2019.


Ia dituntut atas  tuduhan pencurian emas di Perumahan Villa Citra, Jagabaya III, Way Halim, Bandar Lampung, dengan agenda tuntutan dipimpin hakim ketua Syamsudin, Jaksa Penuntut Umum (JPU), Sondang Marbun dan kuasa hukum terdakwa,  Kodri Ubaidillah. 




Dalam sidang tersebut terdakwa dituntut 18 bulan penjara karena terbukti melanggar Pasal 363 Ayat (1) ke- 4 KUHP dan kedua pasal 480 ke-1480 dengan tuduhan pencurian sebagai otak pencurian cincin emas putih 24 karat motif mutiara dan cincin mas 24 karat polos milik Hayudian Utomo.


Dalam dakwaan,melalui percakapan di handpone, terdakwa menyuruh Sani alias Iis pembatu di rumah korban Hayudian Utomo untuk mengambil barang berharga dirumah majikannya dan hasil penjualan akan dibagi dua.

Sani berhasil mengambil satu cincin emas putih 24 karat motif mutiara, dan cincin mas 24 karat polos, kemudian Sani terdakwa dan memberikan cicin hasil curian untuk dijual.

Selanjutnya, cincin emas putih 24 karat motif mutiara dengan harga Rp800 ribu rupiah, lalu mengatar Sani pulang ke rumah korban dan memberikan uang sebesar Rp200 ribu rupiah hasil jual cincin. Kemudian cincin emas 24 karat polos dijual dengan harga Rp700 ribu rupiah. 


Akibat dari perbuatan terdakwa, korban Hayudian Utomo mengalami kerugian sebesar kurang lebih Rp10,4 juta. 
Penasehat Hukum terdakwa dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandar Lampung, Kodri Ubaidillah mengatakan terkait tuntutan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) tidak melihat fakta persidangan ketika membuat tuntutan terhadap kliennya. 


"Fakta dalam persidangan klien kami tidak terbukti melakukan pencurian seperti yang disampaikan dalam tuntutan JPU. Kami menilai JPU  tidak serius dalam membuat dan melihat fakta dalam persidangan,"kata Kodri Ubaidillah, Rabu 18 September 2019.

Dia menjelaskan, dalam pledoi, pihaknya akan serius untuk mengungkap fakta persidangan sehingga diharapkan menjadi pertimbangan hakim dalam memberikan putusan yang adil terhadap kliennya. 

"Dalam pledoi (pembelaan terdakwa red), kami akan paparkan fakta persidangan,  dengan harapan  bisa menjadi pertimbangan hakim untuk memberi vonis seadil adilnya sesuai hati nurani, "ujarnya.

EDITOR

Setiaji Bintang Pamungkas

TAGS


KOMENTAR