LAGI-lagi seorang teman mengeluh karena insentifnya sebagai seorang guru honorer tidak kunjung cair. Padahal, tambahan uang Rp200 ribu per bulan, di luar gaji itu, menurutnya sangat berarti untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Tinggal di Kota Bandar Lampung, sang guru honorer mengaku harus menanggung biaya hidup yang kian mahal. Padahal, selain memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti makan, ongkos transportasi dia juga masih harus meningkatkan pengetahuannya sebagai bekal mengajar, seperti membeli aneka buku. Boro-boro untuk membeli buku, untuk kebutuhan yang tiap bulan saja masih seret.



Begitulah cerita kawan, seorang guru honorer. Kenyataan mengajar di sekolah pusat kota tidak membuatnya tenang untuk bisa menyampaikan ilmu-ilmunya di hadapan siswa. Gaji pas-pasan harus membuat mereka membagi konsentrasinya untuk berpikir kreatif mencari kerjaan sampingan.

Sang kawan pun mengaku kesal, profesi guru dengan status honorer menurutnya masih saja belum diperhatikan. Padahal, program pendidikan kerap kali digembor-gemborkan sebagai salah satu prioritas pemerintah kota. Apalagi, saat-saat memasuki tahun politik seperti pemilihan kepala daerah atau wali kota, guru honorer kerap jadi sasaran pendongkrak suara. Namun, kenyataannya nasib guru honorer masih sama saja, tetap menyedihkan.

Ternyata, kisah yang dicurahkan si kawan yang seorang guru honorer tidak dialami dia sendiri. Sebanyak 7.433 guru honorer TK/RA, SD/MI, dan SMP/MTs negeri dan swasta di Bandar Lampung harus menerima nasib yang sama. Insentif yang sebenarnya jadi penggembira belum juga dibayarkan, sejak awal tahun.

Mendengarkan curhatan guru honorer yang mengeluhkan nasib yang dialami membuat harapan pendidikan semakin berkualitas sepertinya kian jauh terealisasi. Niat pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan bisa dibilang masih setengah-setengah.

Bukankah untuk mengurusi gaji hingga insentif guru honorer Pemerintah Kota seharusnya sudah jauh-jauh hari mengalokasikan melalui Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD), apalagi untuk bidang yang konon diprioritaskan.

Semoga keluhan yang disampaikan teman yang berprofesi guru honorer tidak lagi jadi kaset yang terus berulang. Sebab, sudah waktunya diskusi kami beralih dari topik insentif dan gaji kepada pembelajaran canggih yang ternyata sudah lama dilakukan para guru di belahan dunia lain yang semestinya dia kejar.

 

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR