“PRESIDEN akhirnya meresmikan dua segmen pada ruas jalan tol trans-Sumatera, yakni Seksi 1 (Pelabuhan—Bakauheni) sepanjang 8,9 kilometer dan Seksi 5 (Lematang—Kotabaru) sepanjang 5,64 km pada akhir pekan lalu,” ujar Dul Gepuk.
“Jangan senang dulu, Dul. Total JTTS ruas Bakauheni—Terbanggibesar itu mencapai 140,938 km. Jalan masih panjang untuk menyambungkan Lampung sampai Sumatera Selatan sebelum Asian Games pertengahan Agustus 2018,” ujar Wak Labai.
“Ini sejarah untuk Lampung. Sudah sejak lama tol di Lampung cuma wacana. Sekarang realisasinya sudah di depan mata. Buktinya, animo masyarakat cukup besar. Sekitar 2.000 kendaraan per hari suda icip-icip tol,” sahut Dul Gepuk.
“Sudah, sudah. Kita doakan saja semoga jalan bebas hambatan itu benar-benar terealisasi sesuai target. Nanti, kalau Asian Games berlangsung, kita bisa sewa angkot, terus rame-rame ke Palembang lewat tol untuk jadi suporter. Asyik, kan?” timpal Sutan Aji.
“Kau ini pikirannya cuma senang-senang saja, wahai Sutan Aji. Harusnya, yang perlu dipikirkan itu setelah ada tol itu what next gitu lho. Jangan sampai masyarakat Lampung cuma jadi penonton saja setelah ada tol,” ujar Dul Gepuk.
“Betul, betul,” timpal Wak Labai. “Tiap-tiap pemerintah daerah perlu memikirkan multiplier effect usai tol melintas di daerahnya. Akan ada alih fungsi lahan produktif menjadi permukiman, sentra bisnis, dan perdagangan setelah ada tol,” ujar Wak Labai.
“Fakta-fakta seperti itu jamak terjadi di Indonesia. Lihat dampak Tol Jagorawi, tol pertama di Indonesia. Selanjutnya, Tol Jakarta—Merak adalah tol yang dibuat pada tahun 1984 setelah Tol Jagorawi pada tahun 1978,” timpal Dul Gepuk.
“Betul juga,” sahut Sutan Aji. “Kedua jalan bebas hambatan itu mulanya melintasi daerah sepi senyap wilayah perkebunan. Tol Jakarta—Merak bahkan melintasi areal sawah yang sangat luas. Sekarang sebagian besar sawah dan kebun sudah raib.”
“Wah, bukannya itu bagus dengan beralihnya lahan dari daerah perkebunan dan sawah menjadi permukiman, pusat perdagangan dan bisnis serta industri artinya daerah kita tambah maju. Makin banyak nanti orang yang naik haji,” celetuk Mak Jodhah.
“Itu, Mak, yang patut kita hindari. Jangan sampai kita yang di Lampung cuma bisa jual tanah terus naik haji. Setelah itu, anak-cucu kita hanya melongo karena hanya jadi penonton!” sahut Dul Gepuk. Wak Labai dan Sutan Aji manggut-manggut tanda setuju.
“Emak setuju dengan pembicaraan kalian semua yang supercerdas itu. Tapi, tolong utang kopi dan gorengannya segera dilunasi, ya! Kalau tidak, warung ini bisa bangrut. Nanti anak-cucu Emak cuma bisa melongo gara-gara kalian semua!”

 

EDITOR

Iyar Jarkasih

TAGS


KOMENTAR