LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 14 September
2460
LAMPUNG POST | Cukup Debora!
Muharam Candra Lugina, wartawan Lampung Post. Dok. Lampost.co

Cukup Debora!

DUNIA kesehatan Indonesia kembali tercoreng dengan kasus meninggalnya Tiara Debora Simanjorang. Bayi mungil berusia 4 bulan itu meninggal lantaran telat mendapat perawatan. Kisah pilu yang menimpa putri pasangan Henny Silalahi dan suaminya Rudianto Simanjorang itu diunggah Birgaldo Sinaga di akun Facebook-nya. Disebutkan, Debora mengalami sesak napas setelah mengalami batuk-batuk pada Minggu (3/9/2017), sekitar pukul 02.30.
Sang bunda Henny membangunkan suaminya dan memutuskan membawa sang buah hati ke Rumah Sakit Mitra Keluarga Kalideres. Dokter jaga yang sedang bertugas waktu itu langsung mengambil tindakan pertolongan pertama dengan mengecek suhu tubuh dan diberikan penguapan untuk mengencerkan dahaknya.
Sambil dilakukan pemeriksaan, ayah Debora, Rudianto, diminta mengurus administrasi pasien. Setelahnya, dokter memanggil orang tua si bayi dan menyatakan kondisi Debora memburuk dan harus dimasukkan ruang PICU.
Untuk itu, orang tua Debora diminta membayar uang muka Rp19,8 juta, sedangkan mereka hanya memiliki uang Rp5 juta. Pihak rumah sakit tidak mau tahu dan meminta agar biaya uang muka untuk pengobatan segera dilunasi.
Bahkan, meskipun Rudianto mengatakan memiliki kartu BPJS dan memohon bayinya ditangani lebih dulu dan akan mencari kekurangan dana, ternyata rumah sakit belum bekerja sama dengan BPJS dan tetap meminta uang muka dilunasi.
Orang tua Debora hanya bisa menangis melihat anaknya menderita. Permintaan tolong agar anaknya segera dibawa ke ruang PICU untuk ditangani pun ditolak. Kondisi Debora terus menurun dan dibiarkan berjuang hidup tanpa bantuan medis. Saat Debora akan dibawa ke RS Koja, kondisinya terus menurun. Meskipun sudah diberikan tindakan CPR karena jantungnya berhenti, nyawa Debora tak tertolong lagi.
Apa yang menimpa Debora sungguh miris di tengah gembar-gembor meningkatkan pelayanan bagi masyarakat, khususnya di bidang kesehatan. Padahal, mendapatkan kesehatan yang prima merupakan hak warga negara. Dan, kejadian tersebut bisa menjadi preseden buruk bagi masyarakat yang kerap berobat ke rumah sakit.
Kita tak ingin kejadian tersebut menimpa orang lain. Mungkin cukup sudah Debora menjadi korban terakhir dari ketidakpedulian rumah sakit yang lebih mementingkan sisi bisnis daripada segi kemanusiaan dengan memberikan pelayanan prima.
Kejadian itu juga bisa menjadi pembelajaran bagi instansi terkait untuk tidak melepaskan pengawasan terhadap pelayan yang diberikan rumah sakit. Dan, diharapkan adanya sanksi bagi setiap rumah sakit yang melalaikan pasiennya sehingga terjadi kejadian seperti yang dialami Debora.
Jangan sampai kejadian memilukan tersebut kembali terulang. Kita berharap kejadian tersebut menjadi cermin bagi para petugas kesehatan untuk mengedepankan pelayanan optimal dengan mengesampingkan lebih dulu sisi ekonomi. Selamat jalan, Debora. Semoga pedihnya penderitanmu di dunia dibalas dengan kehidupan lebih layak di alammu yang baru. n

LAMPUNG POST

BAGIKAN


TRANSLATE

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv