WASHINGTON (lampost.co) -- Ada yang berbeda dalam lawatan TKN ke Washington DC kali ini. Dalam pertemuan yang dipadati ratusan orang Indonesia tersebut, Christine Hakim menangis.

Christine Hakim memulai sesinya dengan sepenggal cerita pengalaman pribadinya saat menghadiri debat kandidat yang dilaksanakan KPU bulan lalu. Kebetulan pada saat maghrib menjelang, Christine Hakim pergi sendirian ke mushala di Bidakara. Saat ia sampai, di mushala sudah ada tiga orang Polwan dan beberapa perempuan pendukung pasangan Prabowo - Sandi. Ketika ia masuk, semua menyapanya ramah dan mengajak berfoto-foto. Tak lama azan berkumandang, Christine Hakim menawarkan sekantung kurma yang dibawanya kepada jamaah lainnya untuk berbuka puasa. Semua sedang lahap menyantap kurma ketika tiba-tiba salah seorang menyeletuk, “Haram ga ya makanan dari paslon 01?”



Sontak, seluruh hadirin yang mendengarkan cerita ini terkejut. “Saya bersyukur dikasih Tuhan pengalaman semacam ini sendiri, bukan cerita dari orang lain. Saya sudah mengikhlaskan apa yang terjadi saat itu. Namun, hal inilah yang membuat saya merasakan sendiri bagaimana bahayanya perpecahan yang menghantui negara kita. Jangankan sebangsa tanah air dan umat beragama, dalam keluarga saja bisa tidak rukun karena pilpres,” ulas aktris senior ini sambil mengusap air matanya.

"Jangan dibalik-balik, Ibu. Yang haram dijadikan halal, dan yang halal dijadikan haram. Yang wajib mau dijadikan sunnah, yang sunnah dijadikan wajib,” sambungnya mengulang apa yang ia ucapkan kepada perempuan yang melontarkan ujaran tadi.

Menanggapi kisah ini, salah seorang warga Indonesia bertanya dimana posisi dukungan perempuan Indonesia dalam pemilu saat ini. “Di bulan Januari 2019 ini, persentase pemilih perempuan yang memilih Jokowi - KH. Ma’ruf adalah 57%, naik dari 49,1% di November 2018, berdasarkan survey LSI Denny JA. Jadi meskipun ada yang teriak emak-emak di sana, buktinya lebih banyak perempuan Indonesia yang memilih Pak Jokowi karena visi dan misinya untuk pemberdayaan perempuan jelas,” jawab Lathifa Al Anshori, Wakil Direktur Penggalangan Pemilih Perempuan yang ikut dalam rombongan TKN yang dipimpin Mantan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi.

Dalam kesempatan ini Muhammad Lutfi menerangkan kesuksesan Joko Widodo memperbaiki sistem di Indonesia sudah dimulai dari saat Joko Widodo masih menjabat sebagai Walikota Solo dan ia menjabat sebagai Kepala BPKM. Muhammad Lutfi mengungkapkan bila program Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) yang digagas Joko Widodo di Solo telah menginspirasinya untuk mereformasi sistem pelayanan investasi di BKPM pada zamannya.

Pertemuan yang berlangsung di dalam gedung ini mengumpulkan orang Indonesia dari tiga negara bagian sekitar Washington DC, Virginia, dan Maryland. Mereka tidak hanya antusias ingin memberikan suaranya untuk Joko Widodo - KH. Ma’ruf Amin, namun juga untuk memenangkan partai-partai Koalisi Indonesia Kerja pendukung pasangan calon nomor urut 01.

 

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR