SAAT hendak menghadap Allah swt di Bukit Thursina, Nabi Musa berjumpa dengan salah seorang ahli ibadah. Orang itu mengaku mengisi hari-harinya hanya dengan ibadah hingga usianya memasuki ratusan tahun.

Ia menitipkan pertanyaan kepada Musa, "Tolong tanyakan kepada Allah swt, apakah nanti setelah mati saya masuk neraka atau surga?" kata dia.



Musa pun menyanggupinya dan berjanji akan menanyakan hal itu kepada Allah.

Setelah Musa turun dari gunung, ahli ibadah tadi ingin mendengar apa hasil percakapan Musa dengan Tuhannya. Musa mengatakan bahwa ahli ibadah tadi akan dimasukkan dalam neraka.

Tentu mendengar hal tersebut, ia merasa heran dan tidak percaya. Apakah benar bahwa Tuhan menolak memasukkannya ke surga? "Wahai, Musa, tidak salahkah perkataanmu? Tolong tanyakan kembali kepada Allah, apakah benar aku akan dimasukkan dalam neraka?" ujarnya.

Musa menyanggupinya dan akan menanyakan kembali saat berdialog dengan Allah swt. Dalam kesempatan berikutnya, Musa menanyakan apakah ahli ibadah itu memang masuk neraka. Allah swt ternyata akan memasukkannya ke surga.

Nabi pun merasa heran. Padahal, sebelumnya si ahli ibadah dimasukkan ke neraka. Ia pun bertanya mengapa Tuhan berubah pikiran karena sebelumnya akan memasukkan hambanya ke neraka.

Tuhan mengatakan bahwa si ahli ibadah itu baru saja terjatuh dan merasakan sakit. Saat itu, ia pun berdoa memohon kebaikan dan keselamatan untuk umat yang lain. Karena dia memikirkan dan mendoakan orang lain, akhirnya Aku memutuskan untuk memasukkan ke surga.

Sepenggal cerita Nabi Musa ini mengingatkan kembali akan pentingnya ibadah sosial. Ibadah privat mulai dari salat, puasa, dan berhaji tidak akan sempurna tampa melakukan kebaikan kepada sesama. Ibadah kepada Tuhan jangan membuat lupa bahwa Tuhan pun menuntut umatnya untuk berlaku baik dan adil terhadap sesama.

Mantan penasihat KPK, Abdullah Hehamahua, pernah ditanya tentang bagaimana seorang yang hafal Alquran, tapi kemudian tetap melakukan praktik korupsi. Awalnya, dia tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut.

Pertanyaan itu terjawab saat Abdullah melakukan kunjungan ke Malaysia dan menemukan ada burung beo yang pandai mengucapkan salam layaknya seorang muslim.

Ia pun menganologikan bahwa penghafal Alquran bisa terjebak pada rutinitas di mulut sama seperti yang dilakukan seekor burung beo. Ibadah yang dilakukan tidak membawa kebaikan pada dirinya dan orang di sekitarnya.

Ibadah privat memang penting, tapi jangan sampai melupakan ibadah sosial yang justru membuat agama lebih punya nilai kebaikan bagi alam semesta.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR