BUTUH waktu setahun memulihkan dan membangkitkan kembali kawasan destinasi wisata pantai yang sudah disapu tsunami. Sabtu (22/12) malam, gelombang tinggi sudah meluluhlantakkan kehidupan di pesisir pantai Lampung Selatan dan Banten. Kalau dilakukan secara kompak, serentak, tidak hanya setahun. Paling lama enam bulan bisa beraktivitas lagi.

Yang dibutuhkan saat ini adalah keinginan dan tekad bersama-sama bagi pihak yang tidak terdampak tsunami untuk ikut memulihkan destinasi wisata Lampung. Teluk Kiluan, yang banyak lumba-lumba; Pantai Tanjung Setia, tempat berselancar di Pesisir Barat; juga pulau serta destinasi di kawasan teluk, memberi contoh bahwa Lampung aman dan nyaman berwisata air.



Pascatsunami akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, banyak pengelola wisata, hotel, dan rumah makan, termasuk pusat suvenir dan oleh-oleh khas Lampung, sepi dari pembeli. “Dua pekan ini saja yang berkunjung dan menginap di hotel turun drastis. Bagaimana cara kita membangkitkan lagi,” kata seorang pengusaha hotel bintang lima Lampung.

Dia pun mengajak pelaku dunia usaha di bidang perhotelan, wisata, rumah makan, tempat hiburan, serta pemangku kepentingan, seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Basarnas, Pemprov, dan kepolisian, secara serentak membangkitkan pariwisata agar kembali dikunjungi wisatawan. Tahun 2017 saja, pariwisata Lampung tumbuh 58%.

Angka ini lebih tinggi dari rata-rata nasional yang hanya tumbuh 22%. Artinya, Lampung menjadi salah satu destinasi utama turis lokal juga mancanegara setelah Jawa dan Bali. Jumlah wisatawan mancanegara dan domestik yang berkunjung ke Lampung mencapai 10,381 juta lebih pada 2017. Jumlah itu meningkat 42% dibanding 2016 yang mencapai 7,5 juta wisatawan.

Data dari Kementerian Pariwisata dan Indonesia Hotel General Manager Association (IHGMA) mencatat tingkat hunian hotel di Lampung pada 2018 naik menjadi 59% dari 2017 yang hanya 57% dan 2016 sebesar 56%. Di Bandar Lampung juga daerah wisata. Banyaknya hotel berbintang dan home stay, rumah tinggal sementara, terus tumbuh bak jamur di musim hujan.   

Mencontoh pemulihan destinasi pascagempa bumi di Lombok, Menteri Pariwisata Arief Yahya memfokuskan tiga hal agar pariwisata di provinsi itu bisa bangkit lagi. Ketiga hal itu adalah pemulihan sumber daya manusia (SDM), pemulihan destinasi, dan pemasaran. Fase awal adalah peran TNI-Polri melakukan trauma healing kepada anak-anak bangsa serta keinginan relokasi permukiman penduduk.

Lalu, fase selanjutnya adalah pemerintah provinsi dan kabupaten secara terarah memperbaiki infrastruktur dan fasilitas destinasi agar marketing bisa menjualnya kembali. Itu harus dilakukan secara serentak dan masif untuk membangun kembali kepercayaan rakyat terhadap destinasi wisatawan pantai, khususnya di Lampung.

***

Untuk lebih amannya daerah wisata pantai, seperti di Banten dan Lampung, perlu dipasang alat pendeteksi dini tsunami. Seorang ahli vulkanologi, Surono, berucap alat peringatan dini tsunami dipasang dengan benar, pasti akan terdeteksi baik karena longsoran maupun letusan gunung api. 

Di Selat Sunda, kata Surono lagi, sebuah kegagalan. Temannya di Pantai Carita menyatakan mobil-mobil terbawa arus adalah akibat tsunami, bukan air pasang naik karena bulan purnama. Coba kalau di situ dipasang alat deteksi dini tsunami, tidak akan terjadi korban sampai ratusan jiwa.

Dampak tsunami Selat Sunda, sejumlah pengusaha wisatawan pantai dan hotel terpaksa gigit jari. Sebagian besar pesanan hotel dan tempat hiburan malam Tahun Baru dibatalkan pemesanannya. Mereka khawatir GAK meletus dengan tsunami lagi. “Tempat wisata di sepanjang pantai sepi pengunjung pada liburan Tahun Baru,” kata Bupati Pesawaran Dendi Ramadhona.

Dendi pun melakukan trauma healing kepada anak-anak di Pulau Legundi. Itu salah bentuk upaya Pemkab membangkitkan kembali pariwisata pantai. Selain itu, melakukan kegiatan bersih pantai yang melibatkan masyarakat. Pemulihan juga dilakukan dalam waktu dekat adalah pemasaran destinasi.

Pesawaran memiliki banyak pulau. Bahkan, sudah ada yang menasional, seperti Pulau Pahawang, karena keindahan taman lautnya. Bupati yang senang travelling itu akan melakukan kerja sama pemulihan dengan menggelar event nasional yang dipusatkan di kawasan wisata pantai.

Dalam suatu kesempatan, Menteri Arief Yahya mengatakan langkah yang paling mudah mengembalikan kepercayaan wisatawan adalah keteladanan dari pemerintah. Dia mencontohkan pascaletusan Gunung Agung di Bali. Arief mengundang Presiden Joko Widodo untuk datang ke Pantai Kuta. Tidak perlu banyak pidato, Bali cepat pulih," kata dia.

Ketika pemerintah turun ke lapangan, kata Menteri, tidak perlu banyak bicara, sudah pasti akan pulih. Ini sebuah keteladanan. Hal yang sama juga dilakukan kementerian pascagempa bumi di Pulau Lombok. Bagaimana di Lampung? Pemulihan butuh keseriusan dan sinergisitas antarlembaga guna memperbaiki destinasi wisata yang terdampak.

Saat ini, pintu masuk ke Lampung sudah mudah. Sebentar lagi jalan tol trans-Sumatera beroperasi. Begitu juga dermaga eksekutif di Pelabuhan Bakauheni. Apalagi status Bandara Radin Inten II naik kelas jadi bandar udara internasional. Jika Lampung tidak bergegas memulihkan destinasi dari dampak tsunami, dipastikan daerah lain mengambil keuntungannya.

Infrastruktur tersebut dibangun tidak hanya untuk kepentingan jasa, bisnis, dan dagang, tetapi membuka akses wisata. Lampung memiliki banyak objek wisata alam, seperti air terjun, danau, pegunungan, hutan tropis, dan ombak yang indah untuk berselancar. Jika pelaku usaha wisata Lampung tidak cepat siuman, akan sia-sia saja infrastruktur yang dibangun tadi.  ***

loading...

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR