IKATAN Cendekiawan Muslim Indonesia tentulah bukan organisasi politik praktis yang ikut-ikutan dalam riuhnya aksi dukung-mendukung calon presiden tertentu. ICMI sebagai organisasi para cendekiawan tentu menjunjung tinggi semangat kebangsaan.

Semangat luhur itulah yang terus dirawat dan dijaga oleh ICMI dan oleh para anggotanya. Seperti halnya yang telah diungkapkan Ketua Presidium ICMI Jimly Asshiddiqie pada berbagai kesempatan bahwa organisasinya tidak berpolitik praktis.



Pernyataan itu tentulah bukan isapan jempol semata. Setelah hampir tiga dekade berkiprah untuk negeri, ICMI justru menjelma menjadi rumah bersama bagi semua aliran politik serta dapat menjadi wadah bagi berbagai kalangan intelektual muslim.

Sikap ICMI dalam berkiprah membangun bangsa sangat tegas dan terang benderang, tidak abu-abu. Hadirnya kedua pihak yang berkompetisi pada pilpres mendatang dalam Silaturahmi Kerja Nasional ICMI di Lampung pekan ini bukti netralitas ICMI.

Pada Silaknas ke-28 ini, Prabowo Subianto mendapat kesempatan tampil pada pleno III, dengan tema Demokrasi politik dan ekonomi yang adil, beradab, dan bermartabat. Sedangkan KH Ma'ruf Amin bakal tampil di pleno IV dengan tema Demokrasi ekonomi yang adil, beradab, dan bermartabat.

Para cendekiawan bertekad mengedepankan persatuan dan kesatuan NKRI dan memegang teguh Pancasila. Terlebih Indonesia memasuki masa krusial, yakni Pileg dan Pilpres 2019. Jangan sampai tahun politik pada 2019 menimbulkan perpecahan. Para cendekiawan harus memberikan fondasi kuat pentingnya persatuan dan kesatuan di tengah masyarakat.

Agenda penting dalam Silaknas kali ini, ICMI tidak hanya memberi ruang bagi para kandidat Pilpres 2019 untuk memaparkan pandangan mereka terhadap isu-isu krusial seperti demokrasi, politik, dan ekonomi. Momen Silaknas kali ini juga menjadi ajang dideklarasikannya ICMI regional Asia Tenggara,

Silaknas ICMI pada pengujung tahun 2018 ini juga mengusung tema krusial, yakni Membangun sumber daya manusia insani berkualitas dan bermanfaat melalui peningkatan ekonomi yang adil, makmur dan mandiri. Isu penguatan SDM menjadi persoalan penting mengingat bangsa ini harus mampu berkiprah di era industri 4.0.

ICMI membahas aspek-aspek substantif terkait keindonesiaan dan keislaman, seperti ekonomi, pendidikan, dan sosial untuk kebaikan masyarakat Indonesia secara umum dan umat Islam khusus. Karena itulah, kita amat berharap Silaknas kali ini akan melahirkan rekomendasi-rekomendasi brilian dari para cendekiawan untuk membangun Indonesia.

Masyarakat masih mengharap tokoh cendekiawan yang makin eksis dengan pemikirannya yang baru dan bisa segera membawa angin segar di Indonesia. Para cendekiawan ICMI harus menjadi guru serta teladan bagi bangsa ini bahwa di tengah-tengah perbedaan pemikiran, politik, dan aliran, persatuan dan kesatuan bangsa tetaplah hal utama. 

loading...

EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR