BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Maruli Hendra Utama, Dosen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lampung menjalani sidang dakwaan atas perkara dugaan pencemaran nama baik yang dilakukanya terhadap Dadang Karya Bakti dan Sarief Makhya, Kamis (26/10/2017).

Jaksa Penuntut Umum Kejati Lampung Agus Priambodo, dipersidangan yang digelar di Pengadilan Negeri, Kelas 1A, Tanjungkarang menuturkan, pencemaran nama baik tersebut terjadi pada tahun 2014 saat Maruli menyerahkan uang Rp20 juta kepada Dadang Karya Bakti yang kini menjabat sebagai Senat Unila.



Ketika penyerahan uang pada waktu itu Dadang sebagai anggota KPU Metro. " Maruli meyerahkan uang itu tujuanya untuk mengamankan posisi paman dari terdakwa Maruli yang hendak menjadi anggota legislatif waktu itu, tapi pamannya gagal jadi anggota legislatif Namun uang tidak dikembalikan," kata JPU.

Terdakwa Maruli kemudian bertemu dengan Dadang saat itu terdakwa melihat Dadang yang telah menipunya menjadi Senat Unila. 

Terdakwa lalu melapor ke Sarief Makhya yang merupakan Dekan FISIP Unila. Laporan tak ditanggapi oleh sang Dekan. "Kesal, ia kemudian memposting status di Facebook yang menyebut Wadek III Fisip Unila yaitu Dadang Karya Bakti sebagai “bandit”. Kemudian Dekan FISIP Unila disebut “senyum bandit” dan Rektor Unila sebagai “bandit tua” ia dilaporkan oleh Sarief Makhya ke Polda Lampung atas pencemaran nama baik," kata Jaksa.

Seusai Sidang Maruli mengatakan, dia tetap bersikukuh dengan apa yang dikatakanya dan tidak akan pernah meninta maaf. "Saya tidak akan minta maaf denga apa yang saya tulis, saya yakin Dadang akan meyusul saya dipenjara," kata dia.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR