BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Lembaga yang peduli terhadap permasalahan anak, Children Crisis Centre (CCC), dan Yayasan Samin melalui program "Peduli" menggelar seminar tentang fenomena anak yang dilacurkan. Program ini terkait inklusi sosial yang menitik beratkan pada permasalahan atau isu-isu eksklusi seperti diskriminasi, stigmatisasi ketimpangan pemenuhan hak maupun keadilan sosial.  
Manajer Program Peduli CCC Lampung, Dewi Astri Sudirman. mengungkapkan jumlah anak yang menjadi korban kekerasan, mengalami peningkatan tiap tahun tidak terkecuali anak yang dilacurkan. Hal tersebut menjadi sangat paradoks dengan banyak peraturan perundang-undangan yang mengatur dan melindungi anak. 
Dewi menuturkan di Lampung program Peduli ini berfokus pada dua wilayah di Bandar Lampung yakni di eks lokalisasi Pemandangan, Way Lunik serta Eks lokalisasi Pantai Harapan di Panjang Selatan. Di dua eks lokalisasi ini, kata dia, CCC Lampung mendampingi 40 anak yang dilacurkan. Dari jumlah itu, 30 anak tidak memiiki Akte Kelahiran dan KTP. CCC Lampung bersama dengan Komite Pndidikan Masyarakat Kelurahan Way Lunik dan Panjang Selatan, bekerjasama dengan kelurahan dan kecamatan Panjang membuka akses layanan untuk anak-anak yang hak sipilnya belum terpenuhi.
Program yang dilaksanakan oleh CCC ini menekankan pada 3 pendekatan  utama bagi Ayla yaitu penerimaan sosial melalui perubahan paradigma dan perilaku masyarakat, pemenuhan hak dasar dan membuka akses layanan sosial yang inklusif dari pemerintah, serta adanya kebijakan kebijakan yang lebih berpihak pada mereka.  Sebab itu, CCC Lampung membentuk Komite Pendidikan Masyarakat (KPM) di dua kelurahan Way Lunik dan Panjang Selatan. 
"KPM ini menjadi alat masyarakat untuk mencari solusi dari persoalan anak yang dilacurkan dan anak rentan dilacurkan. Tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh pemuda serta aparat kelurahan berhimpun dalam KPM untuk menciptakan lingkungan yang aman buat anak," kata Dewi dalam keterangan yang diterima Lampost, Kamis(2/8/2018).
Menurutnya, KPM di dua kelurahan dampingan telah berhasil mendorong adanya kesepakatan warga dua eks lokalisasi terkait dengan lingkungan yang aman dan nyaman buat anak yang tinggal di lingkungan tersebut. Kini, KPM dan CCC sedang membahas Peraturan Walikota Tentang Pencegahan Anak Korban Kekerasan.
Dewi menambahkan metode yang dikembangkan CCC Lampung teelah diadopsi oleh Penanggulangan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) bahkan kader-kader dari KPM terlibat aktif dalam PATBM Bandar Lampung.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR