DEBAT keempat calon presiden yang ditayangkan di sejumlah stasiun televisi, Sabtu (30/3), memang sudah lewat. Namun, perbincangan mengenai sosok kedua calon presiden yang bertanding pada Pemilu 2019 masih terus berserak di jagat dunia maya.

Sahaya ingin kilas balik sedikit ihwal debat capres yang beberapa saat telah berlalu dan sempat tercatat dalam catatan kecilku. Ada empat tema yang sedari tema saja bisa menggambarkan keunggulan dan kekurangan masing-masing. Keempat tema itu adalah soal ideologi, pertahanan dan keamanan (hankam), pemerintahan, serta hubungan internasional.



Sebelum debat, sahaya langsung memperkirakan untuk tema ideologi dan pertahanan dan keamanan mesti Prabowo yang menguasai debat tersebut. Namun, untuk tema pemerintahan dan hubungan internasional, mesti Jokowi yang lebih menguasai. Setelah debat, ternyata perkiraan sahaya meleset.

Untuk tema ideologi, keduanya memang bersepakat menyatakan Pancasila sebagai ideologi bangsa, tetapi di sesi inilah juga terjadi curhat kedua capres akibat hoaks yang merajalela di medsos. Membumikan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak dielaborasi oleh kedua capres.

Di bidang pemerintahan, benar saja perkiraan sahaya. Jokowi kalau boleh sahaya menyebut telah memenangkan tema ini. Dengan melontarkan pemerintahan “dilan”—akronim dari digital melayani—di awal visi-misi, Jokowi tampil penuh percaya diri. Pemerintahan Dilan juga sempat merajai lini masa Twitter. Pemerintahan mendatang haruslah menjadi pemerintahan dilan. "Intinya, kecepatan. Negara cepat akan menguasai negara lambat," ujar Jokowi.

Berada di atas angin, Prabowo tidak tinggal diam. Di sesi ini Prabowo malah tampil bagai orator ulung. Retorikanya begitu hidup dan heroik. Menurutnya, kekayaan alam yang berlimpah itu tidak tinggal di Indonesia. Oleh sebab itu, dibutuhkan political will (kemauan politik) yang kuat dari sang pemimpin. Untuk apa tampil dengan sistem yang kekinian jika hanya dimaksudkan untuk dikuasai bangsa asing?

Tema hankam, izinkan sahaya menyebutkan bahwa Prabowo lebih menguasai. Kembali, retorika kekayaan alam Indonesia tidak tinggal di Indonesia mengemuka. Negara kaya maka harus memiliki pertahanan yang kuat. Prabowo juga mengritik Jokowi yang memperkirakan negara akan aman selama 20 tahun. Menurutnya, jenderal yang memberikan pengarahan kepada Jokowi salah. Kata Prabowo, semuanya gara-gara budaya asal bapak senang (ABS) yang masih merajalela di negeri ini.

Pada sesi tentang hubungan internasional, terasa sekali aroma kenegarawanan Jokowi dengan menyebutkan politik bebas aktif yang telah dilakukan selama ini. Jokowi juga menyebutkan keunggulan Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia. Namun, kritik Prabowo juga perlu ditampung. Kritiknya baik. Dalam berdiplomasi, Indonesia jangan melulu menjadi nice guy. Harus ada kepentingan nasional dan kekuatan pertahanan yang kuat. Maaf, sahaya belum bisa menyebutkan siapa yang menang dalam debat ini.

 

loading...

EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR