Jakarta (Lampost.co) -- Pengamat Media Sosial Nukman Luthfie mengatakan sangat mudah mendeteksi ujaran kebencian maupun berita hoax di media sosial. Ciri pertama, judul yang disematkan akan selalu bombastis dan bernada provokatif.

"Ciri kedua minta disebarkan. Memang itu tidak pasti tapi kemungkinan besar itu fake news (berita bohong)," ungkap Nukman, dalam Metro Pagi Primetime, Minggu 1 Oktober 2017.



Nukman mengatakan umumnya tautan yang banyak dibagikan di media sosial dipengaruhi oleh judul yang pendek dan provokatif. Dia mencontohkan, ketika membuka facebook orang hanya akan membaca bagian atasnya saja tanpa memeriksa isi. Hanya dari judul kemudian dibagikan begitu saja.

Bahkan di negara maju seperti Amerika Serikat saja, kata Nukman, orang masih sulit membedakan mana hoax, mana berita asli bahkan artikel iklan. Yang menjadi keprihatinan berikutnya adalah mayoritas dari penyebar adalah awam.

"Sama di Indonesia juga, jadi di era banyaknya berita bohong yang disusupkan kita mesti waspada. Orang awam harus waspada karena yang menyusupkan pasti punya kepentingan, entah finansial entah politik," katanya.

Nukman menyebut jika memang tujuan menyebarkan hoaks atau ujaran kebencian lantaran motif finansial maka warganet yang menyebarkan secara tidak sadar telah memperkaya oknum produsen pembuat berita bohong.

"Atau kalau tujuannya politis, maka kita membantu mereka mencapai tujuan politisnya. Kita enggak dapat apa-apa sudah begitu kalau tertangkap masuk penjara," jelasnya.

Menentukan masa depan seseorang

Tak hanya membantu orang lain dalam meraih tujuan politik dan finansial saja, aktif di media sosial secara negatif juga bisa menentukan masa depan seseorang. Nukman mengatakan apapun postingan yang telah dipublikasi secara digital, jejaknya akan terus ada.

Dia memberi contoh, ada seorang pekerja yang baru memulai kariernya harus dipecat lantaran sesuatu bernada negatif yang pernah dibagikan di media sosial beberapa tahun silam. Atau orang yang mengkritik pemerintah menggunakan ujaran kebencian dan SARA berujung pada konsekuensi pidana hingga dipenjara.

"Gara-gara media sosial tiba-tiba nafkahnya terputus. Lalu bagaimana dia menafkahi keluarga? Banyak yang tidak terpikir sampai kesana. Kalau memang kita benci pemerintah, mau kritik kritik saja tidak apa-apa asal jangan pakai SARA, jangan pakai ujaran kebencian apalagi melanggar hukum," jelas Nukman.

EDITOR

Winarko

TAGS


KOMENTAR